Antisipasi Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pemprov Banten Siagakan Faskes dan Nakes 24 Jam
HARIANBANTEN.CO.ID – Pemerintah Provinsi Banten menyiagakan seluruh fasilitas kesehatan (faskes) dan tenaga kesehatan (nakes) untuk mengantisipasi gangguan kesehatan masyarakat akibat paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kesiapsiagaan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Nomor 400.7/3234/DINKES/2026.
Melalui surat edaran itu, seluruh rumah sakit, puskesmas, laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas), balai kekarantinaan hingga pos kesehatan diminta mengaktifkan layanan siaga selama 24 jam sesuai tingkat risiko dan rencana kontingensi daerah.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan, langkah tersebut dilakukan sebagai respons terhadap potensi peningkatan gangguan kesehatan masyarakat, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“ Saat ini kasusnya memang masih dalam batas normal. Namun demikian, kami bersama seluruh tenaga kesehatan tetap bersiaga sesuai arahan dari Bapak Gubernur Banten agar ke depan tidak terjadi lonjakan kasus,” kata Ati, Minggu (6/9/2026).
Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar
Ati mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kondisi abu vulkanik masih berpotensi memengaruhi kualitas udara.
Jika harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat diminta menggunakan masker untuk mengurangi risiko menghirup partikel abu vulkanik.
Dinkes Banten memastikan stok masker tersedia dan dapat didistribusikan kepada masyarakat yang terdampak.
Selain itu, Pusat Krisis Kementerian Kesehatan juga akan menyalurkan bantuan masker ke sejumlah wilayah terdampak, yakni Banten, Lampung, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
Ati menjelaskan, abu vulkanik mengandung partikel dengan ukuran kasar hingga sangat halus serta gas yang bersifat iritan.
Paparan abu tersebut dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, sesak napas, serta memperburuk kondisi penderita asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).
“Dampak lainnya meliputi gangguan mata, iritasi kulit, hingga kontaminasi sumber air dan pangan yang tidak tertutup rapat. Selain itu, ada risiko kecelakaan lalu lintas akibat berkurangnya jarak pandang dan jalanan yang licin,” jelas Ati.
Faskes Diminta Pastikan Obat dan Oksigen Tersedia
Untuk mengantisipasi dampak kesehatan, Dinkes Banten meminta seluruh fasilitas kesehatan memastikan ketersediaan logistik serta obat-obatan esensial.
Kesiapan tersebut meliputi sistem rujukan, ambulans, tabung oksigen, pulse oximeter, obat bronkodilator, inhaler dan spacer, cairan pembilas mata steril, hingga alat pelindung diri (APD).
Petugas kesehatan juga diminta menggunakan respirator partikulat seperti N95, KN95, atau KF94 ketika menangani kondisi yang berisiko terpapar abu vulkanik.
Selain kesiapan sarana dan prasarana, tenaga kesehatan di lapangan akan melakukan surveilans harian untuk memantau kemungkinan peningkatan kasus gangguan pernapasan.
Pemantauan secara aktif diprioritaskan terhadap kelompok rentan, antara lain bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, serta masyarakat dengan penyakit kronis.
Data hasil pemantauan selanjutnya akan dianalisis dan dikoordinasikan bersama BMKG, BPBD, serta Dinas Lingkungan Hidup, terutama terkait kondisi kualitas udara berdasarkan parameter PM2,5 dan PM10.
Hasil pemantauan tersebut kemudian dilaporkan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).
Masyarakat Diminta Tutup Pintu dan Jendela
Ati juga meminta masyarakat melakukan langkah perlindungan di lingkungan rumah untuk mencegah abu vulkanik masuk ke dalam ruangan.
Masyarakat disarankan menutup rapat pintu, jendela, serta celah yang memungkinkan abu masuk. Tempat penyimpanan air dan makanan juga harus ditutup untuk mencegah kontaminasi.
Saat membersihkan abu, masyarakat diminta membasahinya terlebih dahulu agar partikel tidak mudah beterbangan.
“Bila membersihkan abu, basahi secukupnya terlebih dahulu agar tidak beterbangan. Hindari menyapu kering,” kata Ati.
Ia juga mengingatkan keluarga yang memiliki anggota dengan penyakit kronis untuk memastikan obat rutin tersedia dalam jumlah yang cukup di rumah.
“Pastikan ketersediaan obat rutin bagi anggota keluarga dengan penyakit kronis tersedia cukup di rumah,” pungkasnya.
Pemprov Banten memastikan koordinasi lintas sektor akan terus diperkuat untuk memantau perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau serta mengantisipasi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Masyarakat diimbau tetap tenang dan mengikuti informasi serta arahan resmi dari pemerintah dan petugas terkait. (Red)




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.