HARIANBANTEN.CO.ID – Siapa yang melintas di pusat Kota Cilegon, Banten, pasti tidak asing dengan Tugu Baja. Monumen setinggi sekitar 25 meter yang berdiri di kawasan Simpang Tiga ini bukan sekadar penghias kota. Tugu tersebut menjadi simbol identitas Cilegon yang selama ini dikenal sebagai Kota Baja.

Berdiri kokoh di tengah aktivitas lalu lintas perkotaan, Tugu Baja seolah menjadi penanda bahwa Cilegon merupakan salah satu pusat industri baja di Indonesia. Sejak diresmikan pada 2015, keberadaannya menjadi bagian dari wajah kota sekaligus kebanggaan masyarakat setempat.

Namun, di balik bentuknya yang menjulang, Tugu Baja ternyata menyimpan cerita dan filosofi yang cukup menarik.

Berawal dari Sayembara Desain

Pembangunan Tugu Baja tidak berawal dari penunjukan langsung seorang arsitek. Monumen ini lahir melalui sayembara desain yang diselenggarakan Pemerintah Kota Cilegon.

Dari sejumlah gagasan yang masuk, desain karya konsultan Wira Niaga Sejahtera asal Pandeglang akhirnya terpilih sebagai pemenang.

Konsep tersebut dinilai mampu merepresentasikan karakter Cilegon sebagai kota industri yang tangguh, sekaligus tetap memperhatikan lingkungan dan nilai-nilai budaya lokal.

Pembangunan tugu ini menelan anggaran sekitar Rp 3,3 miliar. Proyek tersebut juga menjadi bagian dari realisasi janji politik Wali Kota Cilegon saat itu, Iman Aryadi, untuk menghadirkan sebuah landmark yang dapat memperkuat identitas daerah.

Bukan Sekadar Tugu, Ini Filosofi di Baliknya

Jika diperhatikan lebih dekat, bentuk Tugu Baja ternyata memiliki sejumlah simbol yang menggambarkan karakter dan potensi Kota Cilegon.

Material baja yang digunakan menjadi representasi identitas Cilegon sebagai kota industri. Bentuk yang menyerupai roda dan elemen industrial menggambarkan aktivitas industri yang menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah.

Menariknya, desain tugu juga memiliki bentuk menyerupai batang pohon dengan cabang-cabangnya. Elemen ini membawa pesan tentang pentingnya lingkungan dan ruang hijau di tengah perkembangan kawasan industri.

Tidak hanya itu, bagian puncak tugu juga memiliki bentuk yang menyerupai mercusuar. Simbol tersebut menggambarkan posisi strategis Cilegon yang berada di kawasan pesisir dan dekat dengan jalur pelabuhan.

Sementara itu, unsur menyerupai kubah menjadi representasi nilai religius yang melekat dalam kehidupan masyarakat Cilegon.

Perpaduan berbagai elemen tersebut membuat Tugu Baja tidak hanya menggambarkan industri, tetapi juga lingkungan, kemaritiman, dan kehidupan sosial budaya masyarakatnya.

Jadi Ikon dan Spot Foto Warga

Seiring berjalannya waktu, fungsi Tugu Baja tidak lagi sebatas penanda kawasan atau monumen kota.

Lokasinya yang berada di pusat aktivitas masyarakat membuat tugu ini mudah dikenali, baik oleh warga lokal maupun para pendatang.

Pada malam hari, keberadaan lampu-lampu yang menerangi monumen membuat tampilannya semakin menarik. Tak heran jika kawasan ini kerap menjadi salah satu lokasi favorit warga untuk mengabadikan momen.

Bagi pendatang, Tugu Baja seolah menjadi salam perkenalan dari Kota Cilegon. Sementara bagi masyarakat setempat, monumen tersebut menjadi pengingat akan identitas daerah yang tumbuh bersama perkembangan industri.

Kawasan Tugu Baja Mulai Berbenah

Kini, perhatian terhadap kawasan Tugu Baja tidak hanya tertuju pada bangunan monumennya. Penataan ruang di sekitar pusat kota juga mulai menjadi bagian dari upaya mempercantik wajah Cilegon.

Pemerintah Kota Cilegon melakukan penataan kawasan, termasuk revitalisasi trotoar, pengembangan jalur pedestrian, hingga rencana pembangunan plaza kota.

Penataan tersebut diarahkan agar kawasan pusat kota tidak hanya menjadi tempat lalu lalang kendaraan, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik.

Dengan fasilitas pedestrian yang lebih nyaman, masyarakat diharapkan memiliki ruang untuk berjalan santai, berfoto, bersosialisasi, hingga menikmati suasana perkotaan.

Jika penataan kawasan berjalan sesuai rencana, Tugu Baja berpotensi semakin kuat menjadi pusat aktivitas publik sekaligus ikon visual Kota Cilegon.

Lebih dari Sekadar Monumen

Tugu Baja menjadi salah satu gambaran perjalanan Kota Cilegon. Dari daerah yang memiliki sejarah agraris dan kawasan pesisir, Cilegon berkembang menjadi kota industri dengan aktivitas ekonomi yang terus bergerak.

Kini, tantangannya bukan hanya mempertahankan identitas sebagai Kota Baja, tetapi juga membangun kawasan perkotaan yang lebih tertata, nyaman, dan ramah bagi masyarakat.

Di tengah deru industri dan kesibukan kendaraan, Tugu Baja tetap berdiri kokoh di pusat kota.

Monumen setinggi sekitar 25 meter itu seolah menyampaikan pesan bahwa Cilegon bukan hanya tentang pabrik dan baja. Ada pula nilai budaya, religiusitas, lingkungan, serta harapan untuk masa depan kota yang lebih baik. (Red)