CILEGON – Direktur Pengembangan dan Advokasi Sinergi Research Center (SRC), Fauzul Imam menilai, pendirian Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri baru di Cilegon masih menuai banyak polemik dimasyarakat bawah. Karena, menurutnya tergesa-gesa tanpa adanya kajian publik dan kajian secara akademik.

Hal itu juga akan memicu sekolah swasta di Cilegon akan gulung tikar (tutup).

“Seharusnya Pemerintah Cilegon jangan terburu-buru mendirikan sekolah, itu akan menggerus sekolah swasta yang ada disini (Cilegon,red) atau akan tutup,” ujar Fauzul.

Sedangkan kalau berbicara gratis, lanjut dia, semua sekolah jenjang SMP baik negeri maupun swasta itu gratis, karena semua itu sudah diatur oleh pemerintah pusat terkait program wajib belajar sembilan tahun.

“Jadi sebaiknya di pertimbangkan Kembali dan dikaji kembali untuk pendirian SMP Negeri Baru, jangan sampai sekolah yang sudah ada dengan adanya pendirian sekolah baru bisa menimbulkan masalah baru,” jelasnya.

“Kita harus memikirkan sekolah swasta yang juga tanggungjawab pemerintah, bagaimana kalo guru-guru dan staf yang disana kalau ga ada muridnya, dan sekolah tutup, apa akan masuk ke SMP Negri baru, kan perlu kajian dan pertimbangan, jangan sampai ini dibuka tapi menimbulkan efek domino yang besar,” tambahnya.

Disisi lain, pihaknya juga mendukung terkait rencana pembangunan sekolah baru. Akan tetapi, harus ada kajian yang lebih mendalam serta kajian akademik.

“Lebih baik tingkatkan faislitas sekolah yang ada, tingkatkan kopetensi SDM yang ada dan buat kurikulum berbasis yang tepat dengan kondisi daerah. Kita menghadapi revolusi industri 4.0 harusnya kajian bagaimana mengembangkan SDM kita, untuk menghadapi era indonesia emas. Karena, generasi milenial sangat membutuhkan sentuhan pemerintah dalam era revolusi 4.0, tapi tidak tau sejauh mana konsep Wali Kota dan Wakil Wali Kota Cilegon untuk mengembangkan SDM generasi milenial 4.0,” tandasnya. (Red)