HARIANBANTEN.CO.ID, CILEGON – Persatuan Perjuangan Masyarakat Cilegon (PPMC) minta Sekretaris Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Cilegon Ihwan Muslim tak sekedar latah dalam menyikapi pamflet boxing fight.

Hal itu disampikan lantaran PPMC menyayangkan cara Sekretaris GMNI Cilegon Ihwan Muslim memahami unggahan pamflet boxing fight pada akun Facebook Isbatullah Alibasja yang diposting beberapa waktu lalu.

Pada pamflet yang kemudian ramai beredar di media sosial tersebut, tertulis boxing fight Silmy Karim Direktur Utama PT Krakatau Steel (Dirut PT KS) vs Isbatullah Alibasja Pembina PPMC.

Panglima Strategi Advokasi Rakyat PPMC Mahendra Seftiyansah mengatakan, pamflet boxing fight antara Isbatullah vs Silmy Karim itu hanyalah sebuah satire (sindiran) yang dilayangkan untuk Dirut PT KS.

“Ini yang gagal dipahami oleh Sekretaris GMNI Cilegon. Kenapa tantangan boxing fight itu dibuat? Karena rupanya Silmy karim tidak cukup punya keberanian untuk melakukan mind duel (adu gagasan atau pemikiran) melawan Kang Isbat,” kata Mahendra melalui siaran pers tertulis, Jumat (10/6/2022).

Dijelaskan Mahendra, pamflet boxing fight tersebut dilayangkan lantaran ajakan untuk bertarung gagasan melalui debat publik guna membahas sengkarut yang terjadi di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut tak direspons.

“Ajakan untuk bertarung gagasan, bersilat argumen serta gugat menggugat data terkait kondisi KS beserta seluruh persoalan turunannya tidak pernah direspon oleh Silmy Karim. Padahal jelas ajakan itu jauh lebih dulu disemestakan oleh Kang Isbat di media sosial, bahkan keinginan ‘gulet’ pemikiran tersebut selalu disampaikan kepada siapapun yang sekiranya punya akses menyampaikan ke Silmy Karim. Kalau diajak berdebat tidak mau, yah siapa tahu diajak olah tubuh dalam hal ini bertinju dia mau,” ujarnya.

Untuk itu, Mahendra menyampaikan, Sekretaris GMNI Cilegon Ihwan Muslim gagal memahami terkait satire (sindiran) dalam pamflet boxing fight tersebut.

“Ada kegagal-pahaman dalam statement Sekretaris GMNI Cilegon itu, dia menyandingakan 3 frasa yaitu kritik, etika dan demokrasi. Bagaimana mungkin dalam sebuah sistem demokrasi, dia berpikir kritik dan etika adalah satu kesatuan. Kritik itu pasti, sedangkan etika itu relatif. Dari sini saja konstruksi berpikirnya sudah tumpang tindih,” tuturnya.

Masih menurut Mahendra, dalam sebuah sistem demokrasi, berdebat dengan saling menunjuk hidung, menyampaikan pendapat melalui mural dan lain sebagainya merupakan hal yang biasa.

“Bahkan teman-teman mahasiswa sering kali aksi dengan memblokade jalan atau bakar ban. Tetapi yang terpenting dan syarat utama kritik terhadap pejabat atau badan publik itu adalah bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, lalu memiliki validasi data dan keakuratan peristiwa,” katanya.

Oleh karenanya, Mahendra meminta agar seorang aktifis dapat memahami terlebih dahulu berbagai macam kritik yang dilayangkan dalam sistem demokrasi terutama melalui hal-hal atau kalimat sindiran.

“Saya rasa Bung Ihwan tidak perlu berpikir bahwa metodologi kritik Kang Isbat itu tidak mendidik. Karena yang tidak mendidik itu adalah ketika ada ribuan buruh dipecat, ketika ada ratusan pedagang kecil tergusur oleh pagar Krakatau Steel dan ketika ada ratusan orang tua jadi korban investasi bodong Primer Koperasi Krakatau Steel, kita lebih memilih kumpul-kumpul di rumah, makan enak bersama anak-istri dari pada ada bersama mereka di garis juang,” pungkasnya. (Red)