Komisi II DPRD Sidak, Pembangunan Medical Center RSUD Cilegon Terancam Molor
HARIANBANTEN.CO.ID – Pembangunan lanjutan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Cilegon terancam tidak dapat dilanjutkan sesuai rencana lantaran terbatasnya anggaran. Hal ini terungkap dalam inspeksi mendadak (Sidak) yang dilakukan Komisi II DPRD Kota Cilegon ke gedung Medical Center, Selasa (9/4/2025).
Ketua Komisi II DPRD Kota Cilegon, Fauzi Desviandy, mengungkapkan bahwa pembangunan RSUD dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama telah rampung pada akhir 2024 lalu, sementara tahap kedua, yang mencakup pekerjaan fisik lanjutan dan penyelesaian bangunan, belum dapat berjalan optimal akibat terbatasnya dana yang tersedia.
“Total kebutuhan anggaran pembangunan mencapai Rp58 miliar. Namun, dana yang tersedia baru sekitar Rp19 miliar. Berdasarkan informasi dari pihak rumah sakit, jumlah tersebut hanya cukup untuk menyelesaikan pembangunan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Sementara lantai-lantai lainnya belum dapat dikerjakan,” kata Fauzi.
Kondisi tersebut, lanjut Fauzi, sudah menimbulkan dampak terhadap pelayanan rumah sakit. Beberapa ruang pelayanan di gedung lama dikosongkan atau dialihfungsikan untuk mendukung pembangunan gedung baru. Akibatnya, kapasitas tempat tidur berkurang dan masyarakat kesulitan mengakses layanan kesehatan.
“Keluhan dari masyarakat cukup banyak. Setelah kami telusuri, ternyata ini berkaitan langsung dengan berkurangnya kapasitas tempat tidur dan terbatasnya ruang pelayanan,” ujarnya.
Fauzi menyayangkan terjadinya efisiensi anggaran pada sektor pelayanan dasar seperti kesehatan. Ia menegaskan bahwa pembangunan fasilitas kesehatan tidak boleh dilakukan setengah-setengah karena justru akan menghambat operasional pelayanan yang optimal.
Komisi II DPRD meminta agar pembangunan RSUD menjadi prioritas dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan pembahasan anggaran selanjutnya. Menurut Fauzi, penambahan alokasi anggaran harus segera dilakukan agar target penyelesaian tidak meleset.
“Jika tidak ada penambahan anggaran, target penyelesaian di 2025 berpotensi mundur hingga 2026 atau bahkan lebih lama. Ini tentu bukan situasi yang ideal,” tambahnya.
Sementara Direktur RSUD Kota Cilegon, dr. H. Lendy Delyanto, MARS, membenarkan bahwa tahap pertama pembangunan telah selesai sesuai kontrak hingga Desember 2024 dan saat ini tengah dalam masa pemeliharaan hingga Juni 2025.
Namun, untuk melanjutkan ke tahap kedua, pihaknya masih menunggu kejelasan terkait penganggaran. Dari total kebutuhan sekitar Rp110 miliar untuk keseluruhan pembangunan, baru sekitar Rp28 miliar yang tercantum dalam dokumen pelaksanaan anggaran (DPA).
“Jika hanya mengandalkan anggaran yang tersedia saat ini, kami baru bisa membangun hingga lantai dua. Padahal rencana bangunan terdiri dari enam lantai, termasuk IGD, ruang operasi, kantin di lantai atas, serta sistem pendukung seperti pengelolaan limbah dan gas medis,” papar dr. Lendy.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan medical center sebenarnya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan rumah sakit. Namun, pembongkaran empat gedung lama untuk memberi ruang bagi pembangunan gedung baru menyebabkan berkurangnya sekitar 40 tempat tidur.
“Saat ini RSUD hanya memiliki 204 tempat tidur. Standar untuk rumah sakit tipe B adalah minimal 200 tempat tidur, sehingga situasi cukup kritis. IGD sering penuh dan antrean pasien semakin panjang,” ujarnya.
Pihaknya berharap proses lelang tahap kedua dapat dilakukan pada Mei 2025, agar pembangunan dapat dilanjutkan pertengahan tahun. Meski demikian, keberlanjutan proyek masih sangat bergantung pada kepastian anggaran.
“Ini bukan semata soal fisik bangunan, tetapi soal bagaimana kami bisa memenuhi kebutuhan dasar layanan kesehatan masyarakat,” tutupnya.
Penulis: Asep Tolet




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.