Mata Air Citaman dan Situs Batu Goong di Pandeglang: Perpaduan Alam dan Sejarah di Kaki Gunung Pulosari
HARIANBANTEN.CO.ID – Di balik gemerlap destinasi pantai dan taman nasional yang biasa menjadi tujuan wisata di Banten, terdapat sebuah kawasan sunyi yang menyimpan keindahan dan nilai sejarah yang kuat: Mata Air Citaman dan Situs Batu Goong, yang terletak di Desa Sukasari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang.
Berada di lereng Gunung Pulosari, kawasan ini menawarkan pemandian alami berusia ribuan tahun, udara pegunungan yang sejuk, serta lanskap pedesaan yang asri. Airnya yang jernih mengalir langsung dari celah bebatuan gunung, menghadirkan sensasi menyegarkan saat disentuh kulit.
Konon, Mata Air Citaman telah ada sejak masa prasejarah. Usianya diperkirakan lebih dari 2.500 tahun. Kolam alami yang terbentuk di kawasan ini menjadi tempat favorit bagi wisatawan lokal yang ingin merasakan kesejukan dan ketenangan alam. Air di kolam ini begitu jernih, hingga dasar kolam tampak jelas seperti cermin. Tak sedikit pengunjung yang menggambarkan sensasinya seperti berendam di air es.
Kolam terbagi dua berdasarkan kedalamannya. Kolam yang lebih besar dan dalam ditujukan bagi pengunjung dewasa, sementara kolam yang lebih dangkal diperuntukkan bagi anak-anak. Di sekelilingnya, hamparan persawahan, tanaman Kirai, dan deretan pepohonan tropis memperkuat suasana pedesaan yang damai.
Di beberapa titik, terdapat pula kolam ikan dan warung-warung bambu, tempat para pengunjung bersantai sembari menikmati minuman hangat. Suasananya tetap tenang, bahkan saat akhir pekan sekalipun. Hal ini menjadikan Citaman sebagai pilihan destinasi bagi keluarga atau mereka yang ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kota.
Jejak Sejarah dan Kepercayaan Lokal
Selain kolam utama, kawasan ini memiliki sembilan mata air yang dikenal masyarakat sekitar dengan nama-nama seperti Cipangetikan, Cikajayaan, dan Cik Huripan. Setiap mata air diyakini memiliki khasiat tersendiri, mulai dari penolak bala hingga simbol kejayaan. Masyarakat sekitar masih menjaga kepercayaan ini sebagai bagian dari warisan budaya.
Tak jauh dari kolam, pengunjung juga dapat menemukan batu-batu megalitik seperti batu dakon, batu berlubang, dan batu pipisan. Keberadaan batu-batu ini memperkuat dugaan bahwa kawasan Citaman dahulu merupakan situs pemukiman atau tempat pemujaan masyarakat prasejarah.
Tanaman rempah-rempah seperti jahe, kunyit, dan kencur pun banyak tumbuh di sekitar kawasan. Tak jarang pengunjung menjelajahi area sekitar sambil mempelajari kekayaan hayati yang tumbuh alami di lingkungan ini.
Akses dan Tiket Masuk
Untuk mencapai lokasi, pengunjung disarankan menggunakan kendaraan pribadi karena akses transportasi umum masih terbatas. Dari tempat parkir, pengunjung perlu berjalan kaki sekitar 300 meter menyusuri jalan setapak yang diapit hamparan sawah dan aliran air jernih.
Harga tiket masuk pun relatif terjangkau, berkisar antara Rp10.000 hingga Rp15.000 per orang. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada hari kerja, di mana suasana lebih lengang dan pengunjung bisa mengeksplorasi kawasan dengan lebih leluasa.
Dengan perpaduan kesejukan alam, nilai sejarah, dan kearifan lokal, Mata Air Citaman dan Situs Batu Goong menjadi salah satu destinasi alternatif yang menarik untuk dikunjungi di Provinsi Banten. Lebih dari sekadar tempat berendam, kawasan ini menyimpan cerita panjang tentang alam dan peradaban manusia masa lalu.
Jika Anda ingin menghindari keramaian dan menyelami sisi lain Pandeglang yang lebih tenang dan reflektif, Citaman bisa jadi pilihan yang tepat.
Penulis: Asep Tolet | Harianbanten.co.id



1 Komentar