HARIANBANTEN.CO.ID – Di Banten, ada kisah yang bikin merinding. Seorang ulama bernama Syekh Qadir disebut-sebut pernah bertirakat sendirian di puncak Gunung Pulosari selama tiga malam. Bukan ujian biasa, tapi menghadapi makhluk-makhluk gaib yang konon jadi penguasa gunung keramat itu.

Gunung Pulosari di Pandeglang punya tinggi sekitar 1.300 meter. Meski tak setinggi gunung lain, auranya dipercaya jauh lebih ‘berat’. Warga menyebutnya gunung suci, tempat para raja dan ulama Banten zaman Kesultanan dulu bertapa.

BACA JUGA: Gunung Pulosari, Jejak Kerajaan Sunda yang Dipenuhi Mitos

Syekh Qadir sendiri sosok misterius. Nggak banyak catatan sejarah soal dirinya. Ia bukan bangsawan, bukan pejabat istana, tapi diyakini sebagai wali yang tugasnya membersihkan wilayah-wilayah keramat dari kekuatan gelap.

Malam Pertama: Harimau Putih

Cerita turun-temurun menyebut, malam pertama Syekh Qadir duduk bersila di atas batu besar sambil berzikir. Tengah malam, seekor harimau putih sebesar kerbau muncul. Harimau itu mengitari beliau tiga kali, lalu menghilang jadi asap.

BACA JUGA: Mata Air Citaman dan Situs Batu Goong di Pandeglang: Perpaduan Alam dan Sejarah di Kaki Gunung Pulosari

Malam Kedua: Godaan Empat Perempuan

Malam kedua, kabut tebal turun. Empat perempuan cantik datang sambil tersenyum dan menggoda. Syekh Qadir tetap berzikir “Ya Quddus”. Perlahan, wajah mereka retak, tubuh berubah jadi debu hitam, lalu hilang.

Malam Ketiga: Duel dengan Raja Jin

Puncaknya di malam ketiga. Langit menghitam, pusaran merah muncul di udara. Dari sana turun sosok berjubah hitam berwajah separuh manusia, separuh hewan buas. Inilah yang diyakini sebagai penguasa gaib Gunung Pulosari.

BACA JUGA: Sembilan Kolam Mistis Situs Citaman Pandeglang, dari Air Kejayaan sampai Penolak Sial!

“Aku diperintahkan untuk membersihkan tempat ini darimu,” kata Syekh Qadir, seperti diceritakan warga. Lantunan ayat Al-Qur’an membuat makhluk itu menjerit, lalu hancur jadi cahaya.

Warisan yang Masih Terasa

Sejak itu, kata warga, puncak Pulosari tak lagi angker. Batu besar tempat Syekh Qadir bertirakat disebut tak bisa dipindahkan. Bahkan, ada yang percaya zikirnya masih terdengar di antara pepohonan kalau orang datang dengan hati ikhlas.

Hingga kini, nggak ada makam atau peninggalan fisik yang pasti milik Syekh Qadir. Tapi di kampung-kampung sekitar, namanya tetap hidup di doa dan cerita rakyat. (Asp/red)