HARIANBANTEN.CO.ID – Di ujung barat Pulau Jawa, tepatnya di pesisir Taman Nasional Ujung Kulon, terdapat sebuah gua yang dipercaya menyimpan banyak kisah dan legenda.

Warga menyebutnya Gua Sanghyang Sirah, tempat yang diyakini sebagai “kepala” Pulau Jawa dan memiliki nilai sejarah serta spiritual yang kuat.

Gua Sanghyang Sirah terletak cukup jauh dari kawasan utama Taman Nasional Ujung Kulon. Nama Sanghyang Sirah berasal dari bahasa Sunda yang berarti “kepala Jawa”, karena letaknya berada di ujung barat Pulau Jawa.

Menurut cerita warga setempat, gua ini tidak sekadar menjadi tempat wisata alam, tetapi juga lokasi ziarahc dan semedi. Konon, tempat ini pernah dikunjungi Khalifah Ali, sehingga terdapat batu yang disebut Batu Quran oleh masyarakat sekitar.

Untuk menuju ke gua, pengunjung biasanya didampingi oleh pemandu lokal yang sekaligus bertindak sebagai penjaga adat setempat. Sebelum masuk, setiap pengunjung diwajibkan membasuh wajah di pancuran kecil yang airnya mengalir dari mata air pegunungan di sekitar lokasi.

Menariknya, wisatawan tidak diperbolehkan masuk melalui pintu besar gua. Mereka justru diarahkan melewati celah sempit di sisi kiri, sehingga harus masuk dengan posisi miring. Di dalam gua terdapat telaga kecil dengan air jernih dan dingin yang diyakini membawa berkah bagi siapa pun yang mandi di sana.

Warga sekitar meyakini Gua Sanghyang Sirah merupakan patilasan Prabu Siliwangi, raja legendaris dari Kerajaan Pajajaran. Karena itu, banyak peziarah datang untuk berdoa atau bertapa, terutama pada malam tertentu.

Selain nilai spiritual, gua ini juga memiliki kekayaan alam. Di dalamnya terdapat sarang burung walet, yang menjadi sumber ekonomi tambahan bagi masyarakat setempat.

Dengan perpaduan antara alam, sejarah, dan kepercayaan masyarakat, Gua Sanghyang Sirah menjadi salah satu destinasi mistis paling menarik di Banten, sekaligus menambah daya tarik wisata spiritual di kawasan Ujung Kulon.(red)