Suami Istri Pejuang! Haji Iskak dan Nyai Kamsidah di Balik Geger Cilegon 1888
HARIANBANTRN.CO.ID – Nama Haji Iskak mungkin tak banyak dikenal generasi sekarang. Namun di balik sejarah kelam “Geger Cilegon” tahun 1888, ia tercatat sebagai salah satu tokoh penting yang berjuang melawan kekuasaan kolonial Belanda. Sosok yang dijuluki Macan Saneja ini dikenal gagah berani, tak gentar menantang penjajahan demi tanah kelahirannya di Banten.
Haji Iskak berasal dari Kampung Saneja, Cilegon. Tak banyak catatan mengenai tahun kelahirannya, namun kisah perjuangannya hidup dalam ingatan masyarakat yang mewarisi semangat jihad melawan penjajah. Ia menikah dengan Haji Kamsidah, seorang perempuan tangguh yang juga ikut berjuang di medan perlawanan.
Julukan Macan Saneja disematkan kepadanya karena keberaniannya menerkam penjajah layaknya seekor macan yang siap menebas musuh. Haji Iskak dikenal sebagai pengikut setia Haji Wasid dan Tubagus Ismail, dua tokoh utama dalam pemberontakan petani Banten.
Rumah Jadi Markas Perlawanan
Semangat jihad Haji Iskak tak hanya tercermin dari kata-katanya. Rumahnya di Kampung Saneja bahkan dijadikan markas rahasia untuk merancang serangan terhadap pasukan kolonial. Dalam pertemuan-pertemuan penting menjelang pemberontakan, namanya selalu tercatat hadir.
Menurut catatan sejarawan Sartono Kartodirdjo, Haji Iskak bersama Haji Wasid dan TB Ismail termasuk dalam jajaran pimpinan utama pemberontakan. Pertemuan terakhir menjelang penyerangan besar bahkan digelar di rumah Haji Iskak pada 7 Juli 1888. Di sana diputuskan, pemberontakan terhadap Belanda akan dimulai pada 9 Juli 1888.
Arak-arakan Putih dan Takbir Perlawanan
Keesokan harinya, ribuan pejuang berpakaian putih-putih menggelar arak-arakan di Cilegon. Mereka mengumandangkan takbir dan kasidah, menandai dimulainya perlawanan besar-besaran terhadap kekuasaan kolonial. Pasukan Haji Iskak kemudian bergerak ke arah Cilegon dan bergabung dengan pasukan pimpinan TB Ismail.
Dari Saneja, gelombang serangan meluas bak banjir bandang. Takbir menggema di mana-mana, menandai kemarahan rakyat Banten terhadap penjajahan yang menindas.
Istri Pejuang yang Turut Angkat Senjata
Menariknya, perjuangan Haji Iskak tak hanya dijalani sendirian. Istrinya, Haji Kamsidah, juga dikenal sebagai sosok perempuan pemberani. Ia bahkan sempat terlibat duel dengan istri pejabat kolonial Belanda, Nyonya Gubbels, yang berakhir tragis dengan kematian sang nyonya di tangan Kamsidah dan dua pejuang lainnya.
Kisah ini menegaskan bahwa perjuangan keluarga Haji Iskak bukan sekadar simbol, tapi benar-benar dijalankan dengan darah dan nyawa.
Diburu Kolonial, Hadiah 1.000 Gulden
Setelah pemberontakan pecah, pemerintah kolonial melancarkan operasi besar-besaran untuk memburu para tokoh Geger Cilegon. Kampung Saneja menjadi sasaran utama. Rumah-rumah digeledah, warga diinterogasi, dan kampung dibakar bila dianggap membantu para pemberontak.
Nama Haji Iskak menjadi target buruan utama. Belanda bahkan menawarkan hadiah 500 gulden, lalu meningkat menjadi 1.000 gulden bagi siapa pun yang berhasil menangkapnya — hidup atau mati. Namun, tak satu pun warga Banten yang mau mengkhianati sang Macan Saneja.
Gugur Sebagai Syuhada
Setelah berminggu-minggu diburu, jejak Haji Iskak akhirnya terendus. Pada 17 Juli 1888, ia terlibat bentrokan dengan pasukan Belanda di Benggala. Meski sendirian, ia melawan hingga peluru menembus tubuhnya. Di saku bajunya ditemukan tasbih, tanda bahwa ia gugur dalam semangat jihad.
Penghulu Serang yang memeriksa jenazahnya memastikan: lelaki itu adalah Haji Iskak, Macan Saneja yang ditakuti penjajah. Ia memilih mati syahid daripada hidup terhina di bawah penjajahan.
Sementara istrinya, Haji Kamsidah, dijatuhi hukuman penjara 20 tahun oleh pemerintah kolonial.
Jejak Perjuangan yang Terlupakan
Kini, nama Haji Iskak hanya diabadikan lewat sebuah masjid tua di Kampung Saneja. Tak banyak yang tahu, di balik sunyi masjid itu tersimpan kisah heroik seorang pejuang yang pernah menggetarkan Banten.
Kisah Haji Iskak dan Haji Kamsidah menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan penindasan tak hanya milik kaum pria. Semangat mereka, dua pejuang dari Cilegon, layak dihidupkan kembali sebagai inspirasi bagi generasi muda Banten hari ini. (red)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.