HARIANBANTEN.CO.ID – Pagi itu, 9 Juli 1888, langit Cilegon bukan sekadar mendung. Ia berwarna kelabu oleh amarah rakyat yang telah lama membara. Dentum langkah, takbir, dan teriakan perlawanan bergema dari kampung ke kampung. Saat itulah Geger Cilegon meletus pemberontakan besar rakyat Banten terhadap kekuasaan kolonial Belanda.

Di antara riuhnya revolusi itu, tiga nama mencuat dan menjadi legenda: Kanidin, Nyai Kamsidah, dan Jaro Misal. Mereka bukan bangsawan, bukan pula orang berpangkat. Tapi dalam diri mereka menyala keberanian yang menggerakkan sejarah.

Koleksi foto sejarah Hindia Belanda – Universiteitsbibliotheek Leiden. (foto/ist)

Kanidin – Bara dari Tanah Jelata

Sosok Kanidin dikenal sebagai pemimpin rakyat yang berani menantang penindasan. Ia hidup di tengah penderitaan panjang akibat pajak tinggi, kerja paksa, dan penghinaan dari pejabat kolonial. Namun Kanidin memilih melawan ketika banyak yang memilih diam.

Ia memimpin gerakan rakyat dengan semangat yang membara. Dalam perlawanan itu, ia dituduh terlibat dalam pembunuhan pejabat Belanda seperti Kepala Penjualan Garam Ulrich Bachet dan Wadana Cilegon. Pengadilan kolonial menjatuhkan hukuman mati, tetapi bagi Kanidin, kehormatan lebih penting daripada hidup.

“Lebih baik mati bermartabat daripada hidup dalam tunduk dan takut,” demikian keyakinannya yang abadi di hati rakyat Banten.

Nyai Kamsidah – Suara Perempuan di Medan Revolusi

Dari Kampung Seneja, muncul sosok perempuan tangguh bernama Nyai Kamsidah. Ia adalah satu-satunya perempuan yang ikut memimpin langsung dalam perlawanan Geger Cilegon.
Keberaniannya membuat kolonial Belanda gerah. Ia akhirnya dijatuhi hukuman mati karena dianggap terlibat dalam pembunuhan istri Asisten Residen Cilegon, Gubbels.

Namun Nyai Kamsidah bukan sekadar simbol perlawanan. Ia adalah bukti nyata bahwa perempuan juga memiliki tempat dalam medan revolusi.

Dalam dirinya tergambar keteguhan perempuan Banten: berani, tegar, dan tak gentar menghadapi kekuasaan.

Jaro Misal – Strategi dari Desa

Berbeda dari dua rekannya, Jaro Misal dikenal sebagai kepala desa yang cerdas dan penuh strategi. Ia mengatur serangan rakyat dengan taktik gerilya, memanfaatkan pengetahuan lokal untuk menekan kekuatan kolonial.

Bagi Belanda, Jaro Misal adalah ancaman. Ia pun ditangkap dan dihukum mati karena dianggap turut mendalangi aksi pembunuhan pejabat kolonial.

Namun bagi rakyatnya, Jaro Misal adalah lambang kecerdikan dan keberanian yang lahir dari bumi Banten.

Dari Propaganda Menjadi Simbol Perlawanan

Ketiganya akhirnya ditangkap dan difoto oleh pemerintah kolonial. Potret itu digunakan sebagai alat propaganda untuk menakut-nakuti rakyat agar tak lagi berani melawan.

Namun waktu membalik maknanya. Foto-foto itu kini menjadi simbol perlawanan, bukan kekalahan.

Dari arsip kolonial yang dingin, wajah-wajah mereka kini direstorasi dan diwarnai ulang. Gambar-gambar itu bukan lagi alat intimidasi, melainkan lentera sejarah, mengingatkan generasi kini bahwa keberanian tak selalu lahir dari orang besar, melainkan dari hati rakyat yang berani berkata tidak pada penindasan.

Lebih dari seabad telah berlalu, tapi nama Kanidin, Nyai Kamsidah, dan Jaro Misal masih bergema di tanah Banten.
Mereka adalah saksi bahwa sejarah bangsa ini dibangun dari darah orang-orang biasa yang memilih melawan ketika dunia memerintah mereka untuk tunduk.

Sumber:
Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan Petani Banten 1888, Pustaka Jaya, 1984

Wikipedia: Geger Cilegon (1888)

Rakyat Empat Lawang: Tiga Pahlawan Banten dalam Peristiwa Geger Cilegon 1888