Kata Hati Terpendam yang Tidak Diungkapkan Seorang Ayah Kepada Anaknya
Percayalah, Ayah selalu ingin menjadi yang terbaik untukmu
Harian Banten – Seorang ayah mungkin jarang berbicara panjang lebar bila tidak ada keperluan atau pertanyaan pada diri kita. Tidak seperti ibu yang sibuk berbicara dan mengarahkan kita dengan banyak kalimat-kalimat pertanyaan penuh perhatian khas wanita, seorang ayah tidak memberikan perhatian dengan cara seperti demikian. Akan tetapi, walaupun terlihat tenang dan kuat, seorang ayah tetaplah manusia biasa yang memiliki kata hati yang terpendam, kata hati ini adalah harapan dan doa untuk sang buah hati tercinta. Apa sajakah kata hati itu?
silahkan disimak.
“Aku benci kekalahan, tapi aku berharap kau akan mengalahkanku dalam meraih kesuksesan”

Sudah menjadi hal yang wajar bagi setiap orang untuk memiliki keinginan berkompetisi mengalahkan yang lain dalam hal meraih kesuksesan. Tidak terkecuali untuk pria, justru rasa kompetisi itu akan selalu ada pada benak mereka. Entah itu berkompetisi dengan teman ataupun keluarga sendiri, ia akan selalu terdorong untuk membuktikan bahwa dirinya mampu meraih kesuksesan yang lebih dari orang lain di sekitarnya.
Namun, hal itu akan berubah seratus delapan puluh derajat ketika pria itu telah menjadi seorang ayah. Ia akan selalu berpikir dan berdoa semoga kelak ia bisa diberikan kesempatan melihat sang buah hati berada di atas puncak kesuksesan. Ia selalu berharap semoga prestasi sang buah hati mampu membuat segala prestasi yang telah ia peroleh selama ini menjadi terlihat tidak ada apa-apanya. Itulah kekalahan yang selalu dinanti-nantikan olehnya, sebuah kekalahan termanis yang bisa dialami oleh setiap ayah di dunia ini.
“Kau harus kuat karena kaulah yang akan menggantikanku menjaga ibumu saat aku telah tiada nanti”

Umur memang tidak bisa ditebak, tapi seorang ayah akan selalu memikirkan dan menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi segala hal bahkan yang buruk sekalipun seperti berpikir bahwa dia lah orang pertama di keluarga kecilnya yang akan “pergi” terlebih dahulu. Ini bukanlah suatu hal yang aneh, seorang ayah memang akan selalu khawatir akan nasib keluarganya kelak ketika ia telah tiada. Oleh karena itulah ia akan selalu berusaha menyiapkan segala sesuatu yang ia rasa bisa menopang kehidupan keluarganya setelah ia tiada nanti.
Kita mungkin sering melihat bagaimana para ayah menyisihkan sebagian besar penghasilan mereka untuk disimpan agar kelak bisa berguna bagi keluarganya, atau membeli aset investasi dan juga mengambil asuransi kesehatan maupun pendidikan bagi anak-anaknya. Itu semua ia lakukan demi keluarganya, tapi dari sekian banyak “aset” yang ia siapkan, “aset” yang paling berharga adalah anak-anak mereka.
Seorang ayah akan selalu mengharapkan anaknya untuk mampu menjadi pribadi yang kuat dan mandiri karena di saat itulah segala kekhawatiran dalam dirinya bisa berkurang banyak (walaupun tidak akan hilang sepenuhnya). Bagi seorang ayah, anak yang telah berhasil dididik menjadi orang yang berguna adalah “investasi” paling berharga yang bisa ia miliki di dunia karena jika ia telah berhasil melakukan hal itu, maka di saat itulah ia akan merasa bahwa segala pengorbanan dan doanya telah dikabulkan oleh Sang Pencipta. Di saat itulah, ia akan siap untuk “dipanggil” kapan saja.
“Bagaimanapun kau jadinya kelak, kau tetaplah anakku !”
(Idntimes)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.