HARIANBANTEN.CO.ID – Tanah Papua tak hanya memesona dengan keindahan alamnya, dari gugusan pulau Raja Ampat hingga lebatnya hutan tropis dan bakau di Teluk Bintuni, tetapi juga menyimpan ekosistem khas yang tak ditemukan di tempat lain. Namun, di balik pesona tersebut, bentang alam Papua kini menghadapi tekanan serius dari ekspansi industri, khususnya tambang dan perkebunan.

Surga Raja Ampat di Ambang Kehancuran

Greenpeace Indonesia memulai pelayaran untuk melihat langsung kondisi ekosistem Papua yang semakin rapuh. Perjalanan dimulai dari destinasi wisata unggulan Raja Ampat, Pianemo dan Wayag. Namun, di balik panorama menakjubkan, aktivitas tambang mulai menampakkan wajahnya. Kapal tongkang hilir mudik, dan dari udara, terlihat pulau kecil yang terkikis alat berat.

“Pulau ini bakal hilang kalau terus dikeruk,” ujar salah satu aktivis dalam dokumentasi Greenpeace. “Ini bukan cuma soal pemandangan, tapi soal masa depan keanekaragaman hayati dan masyarakat adat yang bergantung pada alam.”

Meskipun sebagian wilayah Raja Ampat termasuk zona konservasi, kenyataannya banyak area telah diberi izin tambang, utamanya tambang nikel yang menyasar pulau-pulau kecil demi industri kendaraan listrik dan transisi energi.

Perjuangan Suku Tehit di Nasaimos

Perjalanan dilanjutkan ke Sorong Selatan, tempat suku Tehit mempertahankan wilayah adat Nasaimos seluas hampir 100 ribu hektare. Wilayah yang dulunya hak pengusahaan hutan kini diincar untuk investasi berbasis lahan, seperti perkebunan sawit.

Sejak 2010, masyarakat adat Tehit menolak transmigrasi, pembalakan liar, dan perkebunan skala besar. Mereka membangun pos jaga untuk memantau wilayah adat dan melindungi sumber daya dari pihak luar.

“Dulu banyak kepiting, ikan, sekarang makin berkurang,” kata seorang penjaga pos.

“Dengan pengakuan wilayah adat, kami bisa pasang batas dan cegah eksploitasi.”

Namun perjuangan belum selesai. Masyarakat masih mengupayakan pengakuan penuh atas status hutan adat mereka, yang akan memberi perlindungan hukum lebih kuat.

Mangrove Teluk Bintuni: Benteng Iklim yang Terancam

Di Teluk Bintuni, hutan mangrove yang menjadi salah satu ekosistem vital dalam mitigasi krisis iklim juga tak luput dari ancaman. Di kawasan yang menjadi rumah bagi 15 kampung masyarakat adat Papua ini, mangrove menyediakan sumber kehidupan sekaligus penyimpan karbon alami.

Tim Greenpeace bersama peneliti mengecek empat titik: Pulau Amutu Besar, Amutu Kecil, Pulau Modan, dan muara Sungai Wasian. Hasilnya, sebagian kawasan menunjukkan regenerasi, namun beberapa area rusak akibat penebangan. Mangrove primer di muara Sungai Wasian menyimpan karbon dalam lapisan tanah sedalam lebih dari tiga meter.

“Kalau dikonversi, emisi karbonnya sangat tinggi. Ini harus dilindungi,” ujar seorang peneliti.

Sungai Digul dan Ancaman Sawit di Papua Selatan

Perjalanan berlanjut menyusuri Sungai Digul di Papua Selatan. Sungai yang membelah hutan tropis ini kini menjadi jalur utama bagi perusahaan kayu dan perkebunan sawit.

Dari peta izin yang dianalisis Greenpeace, hampir seluruh koridor Sungai Digul sudah dibebani izin lokasi untuk sawit dan hutan tanaman industri (HTI). Ironisnya, wilayah ini merupakan tanah adat suku Auyu dan Wambon yang kini harus menghadapi konflik lahan.

“Ini pintu masuk industri karena jalurnya bisa dilewati tanker besar. Kalau tidak dihentikan, akan terjadi degradasi seperti di Kalimantan dan Sumatera,” ujar salah satu peneliti.

Kesimpulan: Menjaga Papua, Menjaga Masa Depan

Perjalanan Greenpeace ke Tanah Papua menyingkap paradoks antara keindahan alam dan kehancuran yang mengintai. Di tengah derasnya arus investasi, masyarakat adat menjadi garda terdepan pelindung alam. Namun mereka tak bisa berjuang sendiri.

Greenpeace menyerukan penghentian izin tambang dan perkebunan di wilayah adat dan pulau kecil Indonesia Timur. Tanah Papua bukan sekadar cadangan ekonomi, melainkan jantung terakhir keanekaragaman hayati Indonesia.

“Jika kita tidak bertindak sekarang, maka surga terakhir ini akan menjadi sejarah.”

Penulis: Red | Harianbanten.co.id