Bulan Suro, Awal Tahun Jawa yang Sarat Makna Spiritual, Tradisi dan Mistis
HARIANBANTEN.CO.ID – Bagi masyarakat Jawa, 1 Suro bukan sekadar pergantian tahun. Bulan pertama dalam kalender Jawa ini memiliki kedudukan istimewa, sarat nilai spiritual, dan dikelilingi tradisi serta mitos yang diwariskan turun-temurun.
Bulan Suro bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender Hijriah. Sistem penanggalan Jawa yang memuat bulan Suro lahir pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo, Kesultanan Mataram abad ke-17. Kalender ini memadukan kalender Saka (Hindu-Buddha) dengan kalender Hijriah (Islam) berbasis peredaran bulan.
Perpaduan ini tak hanya soal penyatuan sistem waktu, tetapi juga strategi politik dan budaya untuk menjaga warisan leluhur sekaligus menyesuaikannya dengan ajaran Islam.
Tradisi Malam Satu Suro
Dalam budaya Jawa, Suro bukan waktu untuk pesta atau hajatan. Justru, ini momen introspeksi dan tirakat. Malam 1 Suro disebut paling sakral dalam setahun. Kepercayaan Jawa memandangnya sebagai saat di mana batas dunia manusia dan dunia gaib menjadi tipis.
Ritual yang umum dilakukan meliputi jamasan pusaka, ziarah kubur, semedi, hingga Tapa Bisu Mubeng Benteng di Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Semua dilakukan untuk ketentraman batin dan keselamatan.
5 Larangan Malam 1 Suro dalam Kepercayaan Jawa
Mengutip Makna Komunikasi Ritual Masyarakat Jawa (Galuh Kusuma Hapsari, 2024), berikut pantangan yang diyakini sebagian masyarakat:
- Tidak Keluar Rumah – Malam dianggap angker, rawan gangguan gaib.
- Dilarang Menggelar Hajatan Besar – Menikah atau pindahan rumah dihindari, diyakini membawa kesialan.
- Tidak Boleh Berisik atau Ramai – Menghormati suasana hening dan introspeksi.
- Menjaga Lisan – Dilarang berkata kasar, dianjurkan perbanyak doa dan zikir.
- Tidak Disarankan Membangun atau Pindah Rumah – Dipercaya bisa mengundang ketidakberkahan.
Pandangan Ulama: Bulan Rahmat, Bukan Sial
Sejumlah ulama menegaskan tidak ada hari buruk dalam Islam.
Buya Yahya dalam kanal YouTube Al-Bahjah TV mengatakan, bulan Muharam adalah bulan yang dimuliakan, bukan bulan sial. “Hari jelek hanya satu, yaitu saat Anda bermaksiat. Bulan Muharam justru istimewa, bahkan Nabi menganjurkan puasa di tanggal 10, serta 9 atau 11 Muharam,” ujarnya.
Senada, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dari Ponpes Darush Sholihin mengingatkan, menganggap bulan tertentu membawa sial sama saja dengan mencela waktu, yang merupakan kebiasaan orang musyrik. Menurutnya, semua musibah terjadi atas ketentuan Allah, bukan karena waktu tertentu.
Suro sebagai Simbol Harmoni
Perpaduan ajaran Islam dan tradisi leluhur membuat bulan Suro menjadi simbol harmoni budaya. Filosofi “eling” (ingat Tuhan) dan “waspada” (berhati-hati) tetap relevan untuk menjalani hidup hingga kini. (red)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.