Distan Pandeglang Luncurkan Talas Varietas Beneng
PANDEGLANG – Talas Beneng adalah talas lokal khas yang tumbuh subur disekitar Gunung Karang. Masyarakat setempat sudah mengenal dan memanfaatkan talas beneng secara turun temurun.
Lokasi penelitian berada di salah satu desa sekitar Gunung Karang, yaitu di Kampung Cinyurup, Kelurahan Juhut, Kecamatan Karang Tanjung Kabupaten Pandeglang.
Hasil penelusuran dan wawancara dengan kasepuhan masyarakat serta petugas pertanian di daerah tersebut, bahwa talas beneng sudah berada di sekitar Gunung Karang ratusan tahun lalu tanpa diketahui secara pasti asal mula pengembangan dan dari mana asal talas tersebut.

Talas pada awalnya merupakan tanaman liar yang tidak dibudidayakan. Pemanfaatan sangat terbatas hanya pada saat musim paceklik (tidak ada makanan pokok). Pengembangan talas ini diawali dengan adanya penelitian dari tim peneliti BPTP Banten dan Pak Dudi Supriyadi tahun 2008, yang melakukan modifikasi produk talas beneng menjadi keripik serta tepung talas.
Istilah Beneng pun mulai diperkenalkan pada tahun 2008, nama ini diambil dari morfologi talas yang berukuran besar dan berwarna kuning (beuneur dan koneng dalam bahasa sunda).
Perkembangan talas Beneng sangat cepat, saat ini talas bukan lagi sebagai tanaman liar melainkan sudah menjadi tanaman budidaya, sebagai bahan baku komoditas industri rumahan yang dipasarkan tidak hanya di wilayah Kabupaten Pandeglang, bahkan sudah merambah ke Provinsi Jawa Barat dan Lampung.

Pengelolaan sumberdaya genetik talas Beneng dirasa perlu untuk dilakukan. Hal ini bertujuan untuk menjaga kelestarian, meningkatkan pemanfaatan, sekaligus melindungi talas Beneng dari kepunahan. Berkaitan dengan hal tersebut, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Pandeglang bekerja sama dengan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) Provinsi Banten dan BPTP Banten pada tahun 2010, menginisiasi pendaftaran varietas beneng.
Secara teknis dilanjutkan dengan observasi dan identifikasi talas Beneng sebagai suatu persyaratan dalam pendaftaran varietas.
Pada tahun 2017 Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang mendaftarkan Talas Beneng ke Pusat Perlindungan varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian. Sehingga talas beneng terdaftar dengan nomor pendaftaran 256/PVL/2017.
Pengolahan talas beneng menjadi tepung merupakan salah satu upaya untuk dapat memperluas pemanfaatannya. Dalam bentuk tepung talas beneng akan memiliki masa simpan yang panjang satu tahun serta dapat diolah menjadi aneka produk, dengan takaran yang lebih berstandar.
Tepung talas beneng dapat dibuat dengan beberapa tahapan yaitu pemersihan, pengupasan, pemotongan, pengirisan, perendaman dalam larutan garam sebanyak 5 % untuk menurunkan kadar oksalatnya, baik dalam bentuk kalsium oksalat maupun asam oksalat selama satu hari, pengeringan selama dua hari juga bisa menggunakan oven dengan suhu 50–60 oC selama 8–10 jam dan proses penggilingan tepungnya.
Tepung talas beneng bisa dijadikan olahan mie ayam talas beneng, bolu talas beneng, es krim dan aneka kue lainnya, umbi talas beneng juga bisa dijadikan olahan lainnya antara lain sistik dan keripik.

Produksi talas beneng selain berkembang dan pemanfaatan olahannya di Kabupaten Pandeglang juga di luar Kabupaten Pandeglang diantaranya Kota Tangerang (outlet bolu talas beneng), Kabupaten Serang bahkan ke luar Provinsi yaitu ke Wilayah Bogor, Depok, Jakarta, Cianjur Jawa Barat yang terkenal dengan bolu yang bahan bakunya menggunakan tepung talas beneng.
Talas beneng bisa tumbuh dengan baik di ketinggian 200–1000 MDPL pada tanah tekstur lait berpasir, bibit talas beneng dari anakan bisa digunakan setelah umur 2 (dua) bulan atau bisa digunakan bibit dari pangkal batang habis panen, petani banyak menggunakan pangkal batang untuk ditanam kembali karena pertumbuhannya lebih cepat.
Pemeliharaan tanaman talas beneng dilakukan dengan cara pembersihan gulma dan penjarangan anakan, tambahan pupuk kandang saat tanaman berumur 2.5 bulan, juga dapat dilakukan pendangiran dan pembumbunan saat umur tanaman 3–4 bulan.
Kasi Aneka Kacang Dan Umbi dinas pertanian kabupaten pandeglang, iping saripin menuturkan, talas tersebut bisa ditanam dibawah tegakan pohon, sebab tumbuhan tersebut bisa cocok ditanam di medan apapun.
“Kalau untuk kelebihannya, talas ini bisa kita tanam di bawah pohon, bahkan di medan yang bagaimanapun bisa menyesuaikan dengan kondisi tanah yang ada di media tanamnya. Adapun olahan dari talas beneng ini sudah banyak, seperti rhino cake dan makanan ringan lainnya seperti keripik, bahkan talas ini juga tidak jarang dijadikan terigu,” Katanya.
Sementara itu, Kepala dinas pertanian Kabupaten Pandeglang, Budi s. Januardi mengatakan, keunggulan talas beneng dibandingkan talas lainnya bagi masyarakat di Kabupaten Pandeglang adalah mudah tumbuh dan sangat adaptif dengan lingkungan di sekitar wilayah Gunung Karang.
“Talas beneng tidak memerlukan budidaya dan pemeliharaan tanaman yang rumit dan rewel. Produksi dan produktivitas talas beneng lebih tinggi dibandingkan dengan talas lainnya. Memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif, baik dari sisi kelayakan usahatani, tingginya permintaan pasar maupun dari potensi alam yang mendukung,” katanya. (Red)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.