HARIANBANTEN.CO.ID – Nama Krakatau telah tercatat dalam sejarah sebagai simbol kedahsyatan alam yang mengguncang dunia. Terletak di perairan Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatera, gugusan Kepulauan Krakatau secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Indonesia.

Krakatau bukan hanya dikenal karena keindahan alam dan nilai geologisnya, tetapi juga karena letusan dahsyatnya pada tahun 1883. Letusan tersebut menjadi salah satu bencana vulkanik paling mematikan dalam sejarah modern, sekaligus menandai awal dari era informasi global akibat telah berkembangnya teknologi komunikasi seperti telegraf dan kabel bawah laut.

Situs Warisan Dunia

Kepulauan Krakatau ditetapkan sebagai cagar alam pada 1921 dan bersama Taman Nasional Ujung Kulon, masuk dalam daftar situs warisan dunia UNESCO pada 1991. Gugusan ini terdiri atas empat pulau utama: Rakata, Sertung, Panjang (Rakata Kecil), dan Anak Krakatau yang muncul pada 1927 dari kaldera purba pasca-letusan besar.

Berdasarkan kajian geologi, keempat pulau ini merupakan sisa dari gunung api tunggal yang runtuh akibat letusan besar. Krakatau purba sendiri diperkirakan pernah memiliki tinggi mencapai 2.000 meter dan lingkar pantai hingga 11 kilometer.

Letusan 1883: Dentuman yang Mengelilingi Dunia

Letusan besar Krakatau pada 27 Agustus 1883 meluluhlantakkan lebih dari 70% wilayah pulau. Dentumannya terdengar hingga 3.110 kilometer jauhnya di Perth, Australia Barat, bahkan hingga Rodriguez di Samudra Hindia.

Ledakan tersebut menghasilkan energi setara 200 megaton TNT, sekitar 30.000 kali lebih kuat dibanding bom atom di Hiroshima. Letusannya mengirimkan abu hingga ketinggian 80 kilometer dan memicu tsunami besar yang menewaskan lebih dari 36.000 jiwa menurut data resmi pemerintah kolonial Belanda, meskipun sejumlah perkiraan menyebutkan angka korban lebih dari 120.000 jiwa.

Debu vulkanik yang tersebar mengelilingi bumi menyebabkan perubahan iklim global. Suhu musim panas di belahan bumi utara menurun rata-rata 0,4 derajat Celsius. Langit berubah warna, matahari tampak redup, bahkan muncul fenomena langka seperti awan noctilucent dan matahari berwarna lavender.

Jejak Letusan Purba

Letusan Krakatau 1883 bukan yang pertama dan terbesar. Sekitar tahun 535 M, letusan Krakatau purba diduga menyebabkan “tahun tanpa musim panas” yang memicu kehancuran berbagai peradaban dunia, termasuk di wilayah Pasemah, Banten, dan beberapa kerajaan kuno di Asia serta Amerika Latin.

Menurut catatan Pustaka Raja Purwa, letusan Krakatau purba ini menyebabkan terbentuknya Selat Sunda dan menghilangkan tiga perempat bagian gunung. Letusan ini diduga berlangsung selama 10 hari dengan kecepatan lontaran material vulkanik mencapai satu juta ton per detik.

Lahirnya Anak Krakatau

Pasca-letusan besar, pada 1927 muncullah Anak Krakatau dari dasar kaldera yang tersisa. Gunung baru ini terus tumbuh akibat erupsi berulang, baik eksplosif maupun efusif. Saat ini, ketinggiannya telah mencapai lebih dari 300 meter di atas permukaan laut.

Meski tergolong gunung muda, aktivitas vulkanik Anak Krakatau menjadi perhatian dunia, terutama sejak letusan hebatnya pada 2018 yang menyebabkan longsor bawah laut dan memicu tsunami di Selat Sunda.

Pusaran di Cincin Api

Krakatau adalah bagian dari Cincin Api Pasifik, wilayah paling aktif secara tektonik di dunia yang menjadi tempat pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Aktivitas subduksi di zona ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah gunung berapi aktif terbanyak di dunia, yaitu lebih dari 130.

Nama “Krakatau” secara internasional dikenal sebagai “Krakatoa”, sebuah ejaan yang diyakini muncul akibat kesalahan pengetikan oleh jurnalis Inggris pada masa kolonial.

Letusan Terbesar Kedua di Nusantara

Walau dahsyat, letusan Krakatau 1883 bukan yang terbesar dalam sejarah Indonesia. Letusan Gunung Tambora (1815) dan Gunung Samalas (1257) bahkan tercatat memiliki Indeks VEI (Volcanic Explosivity Index) lebih tinggi, yakni level 7. Di atas itu, letusan supervolcano Gunung Toba sekitar 74.000 tahun lalu mencapai skala VEI 8 terbesar yang pernah diketahui dalam sejarah bumi.

Gunung Krakatau bukan hanya sebuah nama dalam sejarah geologi, tetapi juga simbol bagaimana kekuatan alam dapat mengubah dunia dalam sekejap. Kini, Anak Krakatau terus tumbuh sebagai pewaris dinamis dari salah satu letusan paling bersejarah yang pernah tercatat umat manusia.

Penulis: Red | Harianbanten.co.id