HARIANBANTEN.CO.ID – Maria Ulfah, perempuan kelahiran Serang, Banten, 18 Agustus 1911, tercatat sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Perjalanan hidupnya membawa ia dari lingkungan bangsawan di Banten hingga menjadi Menteri Sosial RI pertama sekaligus aktor penting di balik Perundingan Linggajati.

Maria Ulfah lahir dari pasangan Raden Adipati Arya Mochammad Achmad, Bupati Kuningan, dan Raden Ayu Chadidjah Djajadiningrat. Ia masih memiliki hubungan keluarga dengan dua tokoh besar Banten, Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat dan Achmad Djajadiningrat.

BACA JUGA: Mengenal Maria Ulfah Santoso: Pejuang Emansipasi dan Menteri Perempuan Pertama Indonesia

Sejak kecil, Maria Ulfah sudah akrab dengan pendidikan karena kedua orang tuanya mengenyam sekolah, sebuah hal yang jarang di masa itu. Pendidikan dasarnya dimulai di Jakarta pada 1917, lalu berlanjut ke SD Willemslaan (kini Jalan Perwira) dan Sekolah Menengah Koning Willem III School pada 1924. Ia kemudian melanjutkan studi hukum ke Belanda dan lulus pada 1933.

Sekembalinya ke tanah air, Maria Ulfah sempat bekerja di kantor Residen Cirebon. Namun, pada 1934 ia memilih mengajar di AMS Muhammadiyah Jakarta agar bisa terlibat lebih bebas dalam organisasi perjuangan kemerdekaan. Di sekolah ini pula ia bertemu Santoso Wirodihardjo, yang dinikahinya pada 28 Februari 1938.

BACA JUGA: Jejak Maria Ulfah, Sarjana Hukum Pertama dan Menteri Perempuan Indonesia Asal Banten

Selain di Muhammadiyah, Maria Ulfah juga aktif mengajar di Sekolah Menengah Perguruan Rakyat yang didirikan para aktivis kemerdekaan. Sikapnya yang berpihak pada rakyat membuatnya kerap dilibatkan dalam kegiatan politik, meski akhirnya berdampak pada pensiunnya sang ayah pada 1940.

Puncak kiprah politiknya terjadi saat Perdana Menteri Sutan Syahrir menunjuknya sebagai Menteri Sosial pada 12 Maret 1946. Salah satu tugas besarnya adalah memimpin repatriasi tawanan perang Jepang di wilayah Republik Indonesia.

Maria Ulfah juga punya peran strategis dalam Perundingan Linggajati. Ia mengusulkan Linggajati sebagai lokasi perundingan Indonesia-Belanda kepada Syahrir dan memastikan keamanan lokasi. Usul itu diterima, dan draft perundingan ditandatangani pada 15 November 1946 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Maria Ulfah wafat pada 15 April 1988. Warisannya adalah inspirasi bagi generasi penerus, bahwa perempuan Indonesia mampu berdiri sejajar di panggung politik dan diplomasi nasional. (red)