Cerita tentang Sebilah Golok dan Seorang Tokoh Bernama Iman Ariyadi
HARIANBANTEN.CO.ID – Kilau mata golok memantulkan cahaya matahari yang menembus lembut dedaunan peneduh di Alun-Alun Kota Cilegon, Sabtu (15/11/2025) Kemarin. Di tengah keramaian ribuan warga dan pendekar dari berbagai perguruan silat, sebuah nama kembali mengemuka sebagai bagian penting sejarah kebudayaan Kota Cilegon: Tubagus Iman Ariyadi.
Pada puncak Golok Day Festival 2025 itu, Iman Ariyadi dianugerahi gelar Tokoh Pendekar. Penghormatan tersebut disampaikan bukan hanya karena perannya di masa lalu, tetapi karena warisan budaya yang hingga kini terus hidup, bermula dari sebilah golok, yang kemudian menjelma menjadi simbol identitas masyarakat Cilegon.
Tonggak Budaya dari Masa Kepemimpinan Kota
Sebilah golok telah lama menjadi bagian tidak terpisahkan dari tradisi masyarakat Banten. Namun, di Cilegon, identitas itu menemukan kembali pijakannya pada masa Tubagus Iman Ariyadi menjabat sebagai Wali Kota. Pada periode itulah, dua fondasi budaya penting dirintis:
- Lahirnya perayaan Golok Day, sebuah agenda tahunan untuk merayakan seni bela diri, ketangkasan, dan nilai-nilai budaya golok.
- Penetapan Golok Ciwandan, kini dikenal sebagai Golok Cilegon, sebagai senjata tradisional khas daerah.
Dua langkah itu menegaskan posisi golok bukan sekadar benda, tetapi penanda sejarah dan harga diri.
Penghargaan yang Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Kini
Penghargaan Tokoh Pendekar diterima secara simbolis oleh Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cilegon (DKKC), Ayatullah Khumaeni. menyebut Iman Ariyadi sebagai tokoh yang meletakkan dasar kebudayaan modern di Cilegon.
“Beliau menginisiasi Golok Day, sekaligus menetapkan golok Cilegon sebagai senjata tradisional khas daerah. Keduanya menjadi tonggak budaya yang kita warisi hingga hari ini,” ujarnya.
Kirab pendekar, rampak silat, hingga parade golok dari berbagai perguruan berlangsung sebagai bagian festival. Namun, di balik arak-arakan panjang itu, mengalir sebuah kesadaran, peristiwa budaya tak pernah lahir tanpa penggerak sejarah.
Bagi para pandai besi di kawasan pesisir Ciwandan, golok bukan hanya benda kerja. Di sanalah, generasi perajin menempakan baja, memoles gagang, dan menanamkan falsafah tentang kejujuran, kehormatan, dan kesantunan.
Golok Cilegon hari ini bukan hanya disandang oleh pendekar silat dalam upacara adat, tetapi menjadi narasi yang menjembatani generasi lama dan baru, mengikat warga pada akar budayanya.
Ketika festival mereda dan panggung mulai dibongkar, nama Tubagus Iman Ariyadi masih tersisa dalam percakapan masyarakat. Di antara tenda UMKM budaya, di sela-sela latihan bocah-bocah pesilat yang tertawa, dan dalam ingatan para tetua adat.
Warisan budaya bukan hanya milik masa lalu. Ia tumbuh melalui perayaan, penyebutan ulang, dan penghormatan terhadap jejak pendirinya.
Dan di Cilegon, warisan itu, untuk sebagian besar, bermula dari sebilah golok dan seorang tokoh yang mempercayai bahwa identitas budaya tidak boleh hilang di tengah deru mesin industri.
Setiap kota memiliki caranya mengenang perjalanan budaya. Cilegon melakukannya melalui golok, melalui Golok Day, dan melalui penghormatan kepada Tubagus Iman Ariyadi, seorang tokoh yang pernah, dan akan terus, menjadi bagian dari identitas budaya masyarakatnya. (red)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.