HARIANBANTEN.CO.ID, CILEGON – Safiudin warga lingkungan Luwungsawo RT 001/007, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Citangkil, dengan keterbatasan modal yang selalu menjadi masalah dan tantangan bagi setiap orang untuk melakukan kegiatan usaha.

Berbekal pengetahuan tentang dunia internet, tidak menghalangi niat Safiudin dalam menjalankan sebuah kegiatan usaha.

Dengan atau tanpa modal, safiudin bisa membuktikan, bahwa kendala permodalan, bukanlah sebuah masalah, itu hanya sebuah tantangan yang harus dilalui. Seperti yang dijelaskan safiudin, dia bukanlah pemilik warung madu Azzura, tapi tetap bisa menjual dan mendapatkan keuntungan. Modal dalam kegiatan usaha, sangatlah dibutuhkan dan selalu menjadi pertimbangan utama dalam menjalankan segala jenis usaha.

“Modal itu utama, apapun usaha kita pasti butuh modal, namun ketika kita bicara soal modal, tidak melulu soal Rupiah, Modal keberanian, modal keinginna, bisa dan sangat membantu kita bagaiamnaa mendapatkan keuntungan yang bermanfaat terutama bagi keluarga, ” kata Safiudin seorang Resseler warung madu Azzura kepada harianbanten.co.id, senin (07/11/2022).

Dijelaskan Safiudin, kegiatan dirinya sebagai Resseler, bisa dikatakan semuanya berkaitan dengan dunia maya, atau yang saat ini sedang disebut – sebut adalah dunia digital, walaupun ada kebutuhan yang tidak pakai internet, namun hal tersebut tidak besar, kurang lebih 10 persen.

“Saya pakai modal juga, agar menjadi Resseler, tapi tidak besar, hanya butuh kuota dan komunikasi yang baik dengan pemilik warung serta didorong dengan keinginan yang kuat,” katanya.

Jika bicara soal untung, mungkin belum bisa dikatakan besar, namun sekedar cukup.

“Awal pertama saya jalanin jadi reseller, ada beberapa rintangan yang harus dilewati, seperti pandemi saja misalnya, sudah ada pengaruhnya yang dirasakan, seperti berkurangnnya konsumen otomatis pendapatan berkurang,” terangnya.

Tantangan terberat lainnya, ketika harga BBM yang naik, dapat disimpulkan, bahwa akan berdampak pada kenaikan produk lainya, sehingga konsumen akan mengurangi daya konsumtif.

“Sebagai Resseler kondisi seperti itu adalah saebuah kerugian, karena penghasilan tidak seperti biasanya, akibat pembeli berkurang, dan sampai saat ini pengurangan penghasilan sebagai Resseler, bahkan sekarang – sekarang ini, agak sulit untuk menawarkan produk ke pembeli, karena kebutuhan saja sudah banyak yang naik,”ungkapnya.

Jika bicara soal keuntungan, bagi Resseler sendiri, tidak menentu, tergantung pesanan, jika ditanya dari yang terkecil sampai pendapatan terbesar, dalam satu bulan dari Rp. 500.000 sampai Rp. 2.000.000. tambahnya. (HB/Red)