Membendung Arus Intoleransi Beragama
Oleh: Akhmad Basuni.
Dalam sebuah analisis mendalam berdasarkan data lapangan yang teruji. Charles Kimball mengemukakan bahwa terjadinya intoleransi ada dalam tiap agama. Fakta mencatat bagaimana tragedi Balkan, India, Myanmar, begitu juga Suriah.
Terjadinya Intoleransi diakibatkan tekstuaslisme, pemahaman pembacaan atas Wahyu Tuhan terlalu teks. Dalam Nasrani munculnya Protestan di samping Katolik itu pun tak lepas dari pembacaan atas teks wahyu Tuhan. Sehingga terjadi perang sesama pengikut Kristus. Dalam Islam pun fenomena demikian tampak, seperti pertentangan Wahabisme vs Syiah yang tak berkesudahan seakan musuh abadi. Belum ormas-ormas berlabel agama.
Berawal dari tekstualisme, klaim merasa paling benar. Atas dasar itu cacian, makian, bahkan bentrok fisik hingga pertumpahan darah atas nama Tuhan pun tak terhindari, begitu ujar Charles Kimball. Dari media kita mengetahui bagaimana arogansinya seorang Bush saat menginvasi Afganistan, begitu juga Irak, bukankah Bush menyebut itu perang suci mengatasnamakan Tuhan.
Memang teks dan symbol keagamaan dapat dan telah digunakan untuk mendukung perang dan kekerasan. Akan tetapi, reinterpretasi terhadap teks juga dapat menciptakan etika dan spiritualitas baru yang menekankan hak-hak asasi manusia, toleransi, rekonsiliasi, kebebasan beragama, dan menghormati orang dari agama lain.
Perlunya perubahan pola dakwah, ataupun misionaris dalam mewartakan pesan Tuhan. Bahwa pesan Tuhan yang suci ada yang bersifat mengikat sepanjang masa (final) ada juga yang bersifat dinamis dalam hal penafsiran disesuaikan konteks dan sosioculture. Ayat –ayat particular seperti dalam bahasa tafsir ada istilah ayat perang yang bersifat khusus terkait penomena kejadian saat itu dan di situ.
Jika berkaca pada sahabat utama, tabi’in serta para ulama sesungguhnya pembacaan atas teks itu sangat memperhatikan kontek tidak melulu teks. Bahkan para ulama merumuskan ajaran agama sesunggungya tak boleh keluar dari maqosidussyari’ah yang sangat dekat sekali kepada nilai kemanusiaan. Seperti; kebebasan beragama, kebebasan berpikir, kebebasan dari intimidasi, kebebasan memiliki kekayaan, dan kebebasan memiliki keturunan.
Figure centere (Tokoh Agama), muda’i dan para missionaries sudah sepatutnya hanya meneladani para Nabi utusan Tuhan; yaitu, menebar kasih, laksana Isa al-Masih, begitu juga Muhammad Al-Musthofa.
Dalam Budha ada Sidrata Gautama, begitu juga ajaran luhur dari Hindu juga Konghucu. Agar kaum atheis tak merasa menang karena baginya agama hanya membawa petaka, sebagaimana begitu apiknya paparan Sam Harris dalam bukunya The end of Faith: Religion, Teror, and the Future of Reason.
Di samping paparan di atas, diperlukan pula kesetaraan dalam segala aspek kehidupan. Sebagaimana dalam sejarah Islam, pernah ada mekanisme yang dapat mencegah intoleransi antarkomunal dan memfasilitasi kehidupan bersama yang damai. Imperium multinasional–seperti Imperium Utsmani–adalah contoh mekanisme yang memungkinkan umat yang berasal dari berbagai agama hidup berdampingan.
Ciri-ciri mekanisme ini yang terpenting adalah: perlakuan yang adil (fairness) terhadap agama-agama yang ada, status agama-agama yang otonom atau semi otonom (secara politik, legal, kultural, dan keagamaan), tanpa campur tangan birokrasi imperium ke dalam urusan dan kehidupan internal setiap komunitas agama–yang penting mereka membayar pajak, menyetor upeti, dan memelihara ketertiban (Walzer 1997, 15).
Kita patut meneruskan nilai luhur kemanusian seperti telah dilakukan Mahatma Gandhi, Bunda Theresia. Di Indonesia ada Gus Dur , Ma Gedong, dan lainnya mereka gigih memperjuangkan kedamaian merangkul semua insan tanpa tersekat agama. Mereka berbuat demikian karena menyadari sesungguhnya ajaran esensi agama adalah cinta pada sesama tanpa membeda-bedakan harkat dan kedudukan manusia.
Para pejuang kemanusiaan yang disebutkan di atas sesungguhnya mereka telah menemukan hakikat beragama yaitu memberi maanfaat bagi sesama,memelihara perdamaian. Dari itu mereka tak segan membela kaum minoritas yang tertindas.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.