HARIANBANTEN.CO.ID – Tepat pada 27 April 2025, Kota Cilegon memperingati hari jadinya yang ke-26. Perjalanan panjang kota ini bermula dari sebuah perkampungan rawa di masa Kesultanan Banten, hingga kini menjadi pusat industri baja terbesar di Asia Tenggara.

Berikut kilas balik perjalanan sejarah Kota Cilegon:

Tahun 1651-1672 : Awal Mula: Kampung Rawa di Bawah Kesultanan Banten

Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1672), wilayah yang kini dikenal sebagai Cilegon masih berupa lahan rawa dengan jumlah penduduk yang sedikit. Sultan Ageng mendorong pengembangan pertanian di daerah ini untuk mendukung ketahanan pangan Kesultanan Banten.

Sejak saat itu, wilayah Cilegon perlahan mulai berkembang. Areal persawahan dibuka, permukiman bertambah, dan interaksi sosial ekonomi mulai terbentuk.

Tahun 1816 : Kewadanaan Cilegon: Awal Administrasi Modern

Tahun 1816 menjadi tonggak penting ketika pemerintah kolonial Belanda membentuk Kewadanaan Cilegon. Gedung eks Kewadanaan yang berdiri saat itu masih difungsikan hingga kini sebagai rumah dinas Wali Kota Cilegon.

Pembentukan Kewadanaan ini mempercepat pembangunan infrastruktur dan memperkuat peran Cilegon sebagai salah satu pusat administrasi di wilayah Banten.

Tahun 1888 : Geger Cilegon 1888: Perlawanan Rakyat Melawan Kolonialisme

Nama Cilegon tercatat kuat dalam sejarah nasional berkat peristiwa Geger Cilegon pada 9 Juli 1888. Gerakan perlawanan ini dipimpin oleh sejumlah ulama terkemuka seperti KH Wasid dan KH Tubagus Ismail.

Dengan mengusung semangat anti-penjajahan, ribuan rakyat Cilegon bangkit melawan ketidakadilan pemerintahan kolonial Belanda. Meskipun akhirnya perlawanan ini dapat dipadamkan, Geger Cilegon menjadi simbol keberanian dan harga diri rakyat Banten.

Tahun 1925 : Perkembangan Pendidikan: Lahirnya Al-Khairiyah dan Madrasah Al- Jauharotun Naqiyyah Cibeber

Memasuki abad ke-20. Pada tahun 1924, di wilayah Kewadanaan Cilegon berdiri berbagai lembaga pendidikan berbasis Islam.

Beberapa di antaranya adalah Perguruan Al-Khairiyah Citangkil yang dipelopori Kiai Haji Brigden Syam’un, dan Madrasah Al- Jauharotun Naqiyyah di wilayah Cibeber yang didirikan Kiai Haji Abdul Latif.

Kedua lembaga ini berkembang pesat dan melahirkan banyak tokoh pendidikan di tingkat lokal, regional, hingga nasional. Selanjutnya, kedua lembaga ini memainkan peran besar dalam mencerdaskan generasi muda, bahkan hingga saat ini menjadi bagian penting dari identitas kultural Cilegon.

Tahun 1962 : Era Industri: Lahirnya PT Krakatau Steel

Transformasi besar Cilegon terjadi pada 1962, ketika pemerintah Indonesia mendirikan proyek nasional Pabrik Baja Trikora, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1970, pabrik ini diubah menjadi PT Krakatau Steel.

Seiring berjalannya waktu, Cilegon menjelma menjadi pusat industri nasional. Pertumbuhan industri ini juga mendorong urbanisasi, modernisasi, dan peningkatan taraf hidup masyarakat.

Perkembangan industri ini memicu pertumbuhan sektor perdagangan, jasa, dan membuka banyak lapangan kerja, serta meningkatkan jumlah penduduk di Cilegon.

Tahun 1987-2000 : Menuju Kota Mandiri: Status Kota Administratif hingga Kota Madya

Tahun 1987: Berdasarkan PP No. 40 Tahun 1986, Kewadanaan Cilegon berubah menjadi Kota Administratif Cilegon yang diresmikan pada 20 Juli 1987. Wilayahnya meliputi Kecamatan Cilegon, Pulomerak, dan Ciwandan. Nurman Suryadinata dilantik sebagai Wali Kota Administratif pertama.

Tahun 1999: Kota Administratif Cilegon menjadi Kota Madya Daerah Tingkat II Cilegon berdasarkan bantuan Provinsi Jawa Barat dan MoU dengan Kabupaten Serang. Peresmiannya dilakukan pada 27 April 1999 oleh Menteri Dalam Negeri Sarwono Hardjowinoto. Haji Tubagus Haerul Jaman dilantik sebagai penjabat Wali Kota.

Tahun 2000: Berdasarkan UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, istilah “Kota Madya” berubah menjadi Kota Cilegon. DPRD Kota Cilegon pertama dibentuk pada 4 September 1999 dengan Haji Zaidan Ripai sebagai Ketua.

Kepemimpinan Wali Kota Cilegon dari tahun 2000- Hingga Sekarang

– 2000–2005: Haji Tubagus Aat Syafaat dan Haji Joko Munandar.

– 2005–2010: Haji Tubagus Aat Syafaat dan Haji Rusli Ridwan (hasil Pilkada langsung).

– 2010–2018: Haji Tubagus Iman Ariyadi dan Haji Edi Ariadi.

– 2019–2021: Haji Edi Ariadi dan Haji Ratu Ati Marliati.

– 2021–2025: Haji Helldy Agustian dan Haji Sanuji Pentamarta.

– 2025-2030: Haji Robinsar dan Fajar Hadi Prabowo.

Kepemimpinan Baru: Menuju Masa Depan yang Lebih Cerah

Dalam Pilkada Serentak 2024, Haji Robinsar dan Fajar Hadi Prabowo terpilih sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Cilegon. Keduanya resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025.

Mengusung visi “Cilegon yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan“, pasangan ini berkomitmen untuk membawa Cilegon menghadapi tantangan globalisasi, menjaga keberlanjutan lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di masa kepemimpinan ini, visi pembangunan Kota Cilegon diarahkan untuk mewujudkan Cilegon yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan.

Sementara itu, jajaran legislatif DPRD Kota Cilegon dipimpin oleh Ketua Rizki Khoirul Ichwan, Wakil Ketua I Haji Sohidik, dan Wakil Ketua II Haji Masduki.

Kolaborasi eksekutif dan legislatif diharapkan mempercepat realisasi pembangunan, memperkuat pelayanan publik, serta menjaga harmoni sosial di tengah tantangan zaman.

Dirgahayu Kota Cilegon ke-26:

“Jujur dalam berkarya, amanah dalam mengabdi, religius dalam hati, juara dalam melayani.”

Penulis: Asep Tolet | Harianbanten.co.id

__________________

Penulis mengambil dari beberapa sumber:

Arsip Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Cilegon, “Sejarah Singkat Cilegon

Buku Geger Cilegon 1888″ karya Sartono Kartodirdjo

Website resmi Kota Cilegon (cilegon.go.id)