Tahukah Kamu Sejarah dan Pola Tarian Seni Rampak Bedug di BC-FIFA 2025 Kota Cilegon?
HARIANBANTEN.CO.ID – Seni Rampak Bedug menjadi salah satu pertunjukan utama yang memikat penonton pada gelaran Budaye Cilegon Festival & International Folk Arts (BC-FIFA) 2025. Kesenian ini bukan sekadar hiburan, melainkan warisan budaya Banten yang memiliki akar sejarah panjang dan nilai sosial yang kuat.
Bagaimana Asal Usul Rampak Bedug?
Rampak Bedug berawal dari tradisi ngadu bedug yang berkembang di Kabupaten Pandeglang pada era 1970-an. Menurut catatan Dinas Pendidikan Provinsi Banten (2001), tradisi ini dilakukan masyarakat setiap bulan Ramadhan setelah salat tarawih hingga menjelang sahur.
Warga kampung akan menabuh bedug secara bergantian untuk “menantang” kampung lain. Suara bedug bergema di malam hari, memancing kelompok lain untuk membalas tabuhan. Sayangnya, tradisi ini sering memicu perkelahian antarwarga.
Pada awal 1980-an, Pemerintah Daerah Pandeglang mengubah ngadu bedug menjadi pertunjukan resmi yang berpusat di Alun-Alun Pandeglang. Masing-masing kampung diberi panggung untuk menampilkan kreativitas tabuhan bedug, menciptakan bentuk seni baru yang kemudian dikenal sebagai Rampak Bedug.
Mengapa Dinamakan Rampak Bedug?
Secara etimologis, kata “rampak” berarti serempak, sedangkan “bedug” adalah alat musik tabuh tradisional yang biasa digunakan di masjid. Bedug telah digunakan sejak ribuan tahun lalu sebagai media komunikasi tradisional, baik untuk kegiatan ritual, keagamaan, maupun politik.
Menurut Tim Penyusun Subdin Kebudayaan Provinsi Banten, Rampak Bedug adalah seni menabuh banyak bedug secara bersamaan dengan pola tertentu sehingga menghasilkan irama khas. Kesenian ini hanya ditemukan di wilayah Banten, khususnya Pandeglang, dan menjadi identitas budaya daerah tersebut.
Baca : Cilegon Jadi Tuan Rumah BC FIFA 2025, Warga Siap-Siap Disuguhkan Festival Kelas Dunia
Bagaimana Perkembangan Rampak Bedug Menjadi Seni Pertunjukan?
Awalnya, Rampak Bedug hanya menampilkan irama tabuhan. Namun, seiring perkembangan, seni ini mulai dikemas lebih atraktif dengan memasukkan unsur tarian. Gerak tari yang digunakan terinspirasi dari pencak silat, seni bela diri tradisional Banten yang penuh energi.
Transformasi ini tidak hanya menambah daya tarik visual, tetapi juga menguatkan nilai budaya. Rampak Bedug pun menjadi bagian dari festival-festival besar, termasuk BC-FIFA 2025 di Kota Cilegon.
Apa Ciri Khas Rampak Bedug?
Rampak Bedug memadukan dua unsur utama: karawitan dan tari.
-
Unsur karawitan diwujudkan melalui waditra, yaitu seperangkat alat musik tradisional yang terdiri dari 8–16 bedug besar (Bedug Gebrag), Dolongdong, Tilingtit, dan Anting.
-
Unsur tari diambil dari gerak pencak silat, sehingga setiap penampilan terlihat energik, penuh koordinasi, dan selaras dengan irama tabuhan.
Perpaduan ini menghasilkan pertunjukan yang memikat secara audio dan visual, menjadikan Rampak Bedug mudah dikenali meskipun hanya dari suara tabuhannya.
Apa Fungsi Rampak Bedug?
Secara tradisional, bedug berfungsi sebagai alat komunikasi. Di masjid, bedug digunakan untuk memberi tanda waktu salat. Dalam konteks budaya, bedug berperan sebagai media informasi dalam upacara keagamaan dan kegiatan masyarakat.
Kini, Rampak Bedug memiliki fungsi yang lebih luas. Selain sebagai hiburan, seni ini menjadi sarana pelestarian budaya, mempererat hubungan sosial, dan memperkenalkan identitas Banten ke tingkat nasional bahkan internasional.
Bagaimana Pola Tabuhan Rampak Bedug?
Penelitian Syamsul Rizal dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (2019) menemukan bahwa Rampak Bedug Ciwasiat memiliki delapan pola tabuhan, yaitu:
-
Rurudatan – tabuhan pembuka yang mengundang perhatian.
-
Dulag – tabuhan ritmis dengan tempo sedang.
-
Selang Dog – variasi tabuhan yang memberikan transisi dinamis.
-
Kalapa Samanggar – pola tabuhan cepat untuk membangkitkan energi.
-
Gembrung – tabuhan berat yang menghasilkan gema panjang.
-
Sholawatan – tabuhan bernuansa religius.
-
Sela Gunung – pola kompleks yang menantang keterampilan penabuh.
-
Turumbu – tabuhan penutup yang memberikan kesan mendalam.
Delapan pola ini disusun menjadi satu komposisi utuh, menciptakan alur pertunjukan yang memikat dari awal hingga akhir.
Bagaimana Penampilan Rampak Bedug di BC-FIFA 2025?

Dalam BC-FIFA 2025, Rampak Bedug tampil dengan kemasan modern. Tata panggung dibuat luas untuk menampung belasan bedug besar. Pencahayaan artistik memperkuat suasana, sementara kostum para penabuh menonjolkan motif khas Banten.
Penonton disuguhi kolaborasi antara musik bedug, gerak tari silat, dan formasi panggung yang rapi. Irama yang dimainkan memadukan pola tradisional dengan sentuhan kreatif, menjadikannya relevan di mata generasi muda tanpa menghilangkan esensi budaya.
Mengapa Rampak Bedug Penting Dilestarikan?
Rampak Bedug bukan hanya hiburan. Ia adalah cerminan sejarah, identitas, dan kebersamaan masyarakat Pandeglang. Melalui festival seperti BC-FIFA 2025, kesenian ini berkesempatan diperkenalkan kepada audiens internasional.
Pelestarian Rampak Bedug juga sejalan dengan upaya memperkuat Ekonomi Kreatif Banten, di mana seni tradisional menjadi daya tarik wisata budaya. Dengan dukungan pemerintah daerah dan partisipasi generasi muda, Rampak Bedug berpotensi menjadi ikon budaya Banten yang mendunia.(SA)



1 Komentar