Viral Warga Cilegon Curhat Ibunya Diusir dari UGD: “Karena Pakai BPJS?”
HARIANBANTEN.CO.ID – Akses layanan kesehatan di Kota Cilegon kembali disorot. Kali ini, seorang warga Purwakarta Kota Cilegon, bernama Ferdiyan Ananta mengungkapkan keluh kesahnya lewat media sosial soal sulitnya mendapat layanan medis untuk sang ibu, yang diklaim ditolak dirawat di rumah sakit karena menggunakan BPJS.
Dalam unggahan yang viral di media sosial, Ferdiyan menyebut ibunya sudah dua minggu bolak-balik rumah sakit namun selalu dipulangkan. Ia menuding adanya diskriminasi terhadap pasien BPJS.
“Semalam, dalam kondisi cukup mengkhawatirkan, ibu saya diusir dari ruang UGD salah satu rumah sakit di Cilegon dengan alasan ruangan penuh, tanpa dibekali sebutir obat pun. Kami mencurigai ini karena kami pakai BPJS,” tulis Ferdiyan di media sosialnya, dikutip Selasa (22/7/2025).
Ferdiyan juga menyinggung masalah klasik diskriminasi terhadap peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Menurutnya, pasien yang menggunakan dana pribadi terlihat mendapat pelayanan lebih cepat dan layak.
“Jangankan urusan kesejahteraan utuh. Soal hidup dan mati saja masih ditawar,” ucapnya.
Dalam hal ini, Ferdiyan mengkritik keras anggapan bahwa harus melibatkan kader atau pejabat agar bisa mendapat pelayanan kesehatan.
“Kalau semua syarat administrasi dan substansi sudah terpenuhi, kenapa harus pakai kader atau pejabat agar bisa dirawat?” tulisnya.
Ia juga menyoroti sikap sejumlah rumah sakit yang terkesan meremehkan pasien BPJS.
“Ada penyederhanaan terhadap penderitaan masyarakat. Seolah-olah: ‘Kamu pakai asuransi nasional, pulang aja. Kalau meninggal, itu nasib.’ Shameful,” tegasnya Ferdiyan.
Unggahan tersebut ramai dikomentari warganet, salah satunya, warga sekitar. Sam’udi Husin menyinggung program kesehatan yang selalu digadang-gadang Pemerintah Kota Cilegon.
“Pelayanan Kesehatan 24 Jam, Dokter ke Rumah, Akses Mudah, Sistem Tangguh, Pelayanan Juara. Ini gimana Mang Pram? Sekedar narasi capaian?” tulisnya.
Mantan Lurah Pabean juga ikut berkomentar dan mempertanyakan kemungkinan adanya miskomunikasi antara pasien dan pihak rumah sakit.
“Saya beberapa kali bantu warga BPJS, termasuk saat tugas di Pabean, semua terlayani dengan baik. Saran saya, minta bantuan kader atau pejabat setempat,” ujarnya, Nurul Hadiyati Mahfud.
Komentar lain datang dari Kepala DPAD Kota Cilegon, Ismatullah Syihabudin yang juga mengalami kesulitan dalam mengurus pengobatan untuk keluarganya.
“Saya urus dua orang, harus ada pengantar dari RT, RW, lurah, camat, baru ke Dinsos. Selanjutnya disarankan berobat umum saja,” katanya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak rumah sakit yang disebut, maupun Dinas Kesehatan Kota Cilegon terkait keluhan Ferdiyan Ananta.
Warganet berharap masalah ini segera ditindaklanjuti agar tidak terus berulang dan menambah deretan kisah kelam pelayanan kesehatan di daerah.
Penulis: Asep Tolet | Harianbanten.co.id



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.