HARIANBANTEN.CO.ID – Sebelum dikenal sebagai pusat Kesultanan Islam yang disegani, wilayah Banten merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda Pajajaran. Terletak di pesisir barat laut Pulau Jawa dan menghadap langsung ke Selat Sunda, kawasan ini telah lama menjadi simpul perdagangan maritim yang strategis.

Pada masa praislam, pusat kekuasaan lokal di Banten berada di Banten Girang, yang letaknya tidak jauh dari Sungai Cibanten. Situs ini diyakini sebagai kota pelabuhan yang cukup maju dengan jejak arkeologis berupa struktur bangunan dan artefak yang menunjukkan kehidupan masyarakat yang aktif, khususnya dalam bidang perdagangan.

Mayoritas penduduk kala itu berasal dari etnis Sunda dengan kepercayaan Sunda Wiwitan yang bersinergi dengan pengaruh Hindu-Buddha. Sebagai pelabuhan Kerajaan Sunda, Banten Girang memegang peran penting dalam jaringan niaga yang menghubungkan wilayah pedalaman Tatar Sunda dengan dunia luar. Komoditas utama seperti lada menjadi magnet bagi para pedagang dari berbagai belahan dunia, termasuk Tiongkok, India, hingga Timur Tengah.

Memasuki abad ke-15 dan 16, dinamika politik di Jawa mulai berubah. Keruntuhan Majapahit disusul kemunculan Kesultanan Demak membawa pengaruh Islam kian meluas, terutama di wilayah pesisir utara Jawa. Di bagian barat, Cirebon yang dipimpin oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati tumbuh sebagai pusat kekuatan Islam baru. Berbekal hubungan darah dengan Prabu Siliwangi dan koneksi ke dunia Islam, Sunan Gunung Jati memainkan peran strategis dalam menyebarkan Islam di tanah Sunda.

Ilustrasi Grafik (Foto/HB)

Salah satu target dakwah dan ekspansi politik yang dilirik adalah Banten. Dikenal strategis dan ramai oleh aktivitas pelayaran, wilayah ini menjadi incaran bagi Demak dan Cirebon. Sekitar tahun 1526-1527, misi militer ke Banten dipimpin oleh putra Sunan Gunung Jati, Maulana Hasanudin. Dengan dukungan kekuatan gabungan, mereka berhasil merebut Banten Girang dari kendali Pajajaran. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Hindu-Buddha di pesisir barat Jawa dan membuka jalan bagi berdirinya kekuasaan baru berbasis Islam.

Setelah penaklukan, Maulana Hasanudin mulai membangun pemerintahan baru. Ia tidak hanya memimpin sebagai penguasa administratif, tetapi juga sebagai simbol legitimasi Islam. Pendekatan dakwah yang digunakan bersifat bertahap, melalui jalur perdagangan, pendidikan, dan pernikahan politik. Elemen-elemen lokal tidak sepenuhnya dihapus, melainkan diakulturasi dengan nilai-nilai Islam.

Langkah strategis lainnya yang diambil adalah memindahkan pusat kekuasaan dari pedalaman ke pesisir. Di lokasi baru yang kemudian dikenal sebagai Surosowan, Maulana Hasanudin mendirikan keraton sebagai pusat pemerintahan, serta Masjid Agung Banten sebagai simbol utama keislaman. Gaya arsitektur masjid ini mencerminkan keterbukaan Banten terhadap berbagai budaya, memadukan elemen Jawa, Eropa, dan Cina.

Di bawah kepemimpinan Maulana Hasanudin, Banten tumbuh sebagai kesultanan yang kuat secara politik, religius, dan ekonomi. Pelabuhan Banten berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan lada terpenting di Nusantara. Ia memerintah hingga tahun 1570 dan dikenal luas sebagai pendiri serta peletak dasar Kesultanan Banten yang kelak mencapai masa kejayaannya di bawah para penerusnya.

Penulis: Asep Tolet | Harianbanten.co.id


Penulis menyadari bahwa tulisan ini mungkin masih mengandung kekurangan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan atau ketidaksempurnaan dalam penyajian informasi.

Masukan dan kritik yang membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan tulisan yang lebih baik dan memberikan manfaat bagi khalayak.