HARIANBANTEN.CO.ID – Di tepian jalur utama menuju pesisir Carita, berdiri sebuah masjid kuno yang sarat sejarah dan nilai budaya. Masjid Caringin, yang terletak di Jl. Raya Carita Km. 2, Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, menjadi saksi bisu perjalanan masyarakat Banten dalam menegakkan syiar Islam dan menghadapi dinamika zaman.

Bangunan utama masjid berdiri di atas lahan yang berbatasan dengan permukiman warga di utara, Desa Teluk di selatan, Desa Banyubiru di timur, dan Jl. Raya Carita di barat. Masjid ini memiliki denah persegi berukuran 12 x 12 meter, dengan lantai yang ditinggikan sekitar 120 sentimeter dari permukaan tanah.

Pintu masuk utama terletak di sisi timur, terdiri dari tiga buah pintu kayu dan kaca. Pintu tengah memiliki lubang angin berbentuk setengah lingkaran bermotif trawangan, sementara dua pintu lainnya dilengkapi hiasan geometris. Pintu di sisi utara dan selatan juga menampilkan bentuk dan ornamen serupa, lengkap dengan lubang angin berbentuk lingkaran dan setengah lingkaran yang menambah nilai estetik arsitektur masjid ini.

Bagian dalam masjid memperlihatkan struktur tradisional yang khas, dengan empat soko guru, tiang utama penyangga atap, berbentuk segi delapan setinggi 5,5 meter. Mihrab yang terletak di sisi barat berbentuk persegi dan dihiasi kaligrafi serta ornamen bunga teratai. Di dekat mihrab terdapat mimbar kayu berbentuk kursi yang ditinggikan, menunjukkan fungsi pentingnya dalam kegiatan keagamaan.

Tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menyimpan nilai sejarah. Di sebelah barat masjid terdapat makam pendiri masjid, KH Muhammad Asnawi, seorang ulama kharismatik yang membangun kembali Desa Caringin bersama masyarakat setelah wilayah ini sempat ditinggalkan akibat letusan dahsyat Gunung Krakatau tahun 1883.

“Syekh Asnawi dan warga bahu-membahu membangun kembali masjid ini sebagai pusat aktivitas keagamaan dan perlawanan,” demikian dikutip dari Data Base Cagar Budaya di Kabupaten Pandeglang terbitan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten.

Bagian atap masjid terdiri dari tiga tingkatan, dengan mustaka dari tanah liat dan lambang bulan sabit di puncaknya. Di halaman timur, terdapat dua kolam berbentuk persegi sebagai tempat mencuci kaki sebelum masuk ke masjid. Tak jauh dari situ, terdapat istiwā, alat penunjuk waktu shalat berbasis cahaya matahari berbentuk huruf L.

Masjid Caringin pernah mengalami proses pemugaran pada tahun 1980–1981 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (sekarang BPCB Banten). Pemugaran difokuskan pada penyelamatan struktur dari pelapukan serta pembangunan fasilitas penunjang seperti kamar mandi dan ruang generator.

Kini, Masjid Caringin tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol peradaban Islam yang tumbuh di tengah masyarakat Banten. Keberadaan masjid ini menjadi bukti bahwa di balik gempa, letusan, dan zaman yang terus berubah, spirit gotong royong dan nilai keislaman tetap teguh berdiri.

Penulis: Red | Harianbanten.co.id