HARIANBANTEN.CO.ID– Di balik lebatnya pepohonan dan tenangnya suasana di Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten, terdapat sebuah danau buatan yang telah menyatu dengan sejarah dan kebudayaan lokal, Danau Tasikardi. Tak sekadar tempat wisata, danau seluas lima hektare ini menyimpan cerita panjang kejayaan Kesultanan Banten serta menjadi bukti kecanggihan teknologi tradisional pengelolaan air.

Danau Tasikardi dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf (1570–1580 M), Sultan Banten kedua. Nama “Tasikardi” berasal dari bahasa Sunda Kuno, yakni tasik yang berarti danau dan ardi yang berarti buatan. Sesuai dengan namanya, danau ini memang merupakan hasil rekayasa manusia yang dibuat untuk dua tujuan utama: penampungan air Sungai Cibanten untuk irigasi sawah dan penyedia air bersih bagi keluarga kesultanan di Keraton Surosowan.

Penyaringan Danau Tasikardi pada tahun 1933. (Foto/Wikipedia)

Air dari danau ini dahulu dialirkan ke keraton melalui pipa tanah liat berdiameter sekitar 2,4 meter. Sebelum digunakan, air akan melalui proses penyaringan di tiga bangunan pengindelan (penyaringan) yang dikenal sebagai pengindelan abang (merah), putih, dan emas. Sistem ini mencerminkan pemahaman mendalam masyarakat Banten tempo dulu terhadap pengelolaan air bersih.

Tak hanya fungsional, Danau Tasikardi juga bersifat simbolik dan spiritual. Di tengah danau terdapat sebuah pulau kecil yang dikenal sebagai Kaputren. Pulau ini dulunya menjadi tempat tafakur ibunda Sultan Maulana Yusuf sekaligus lokasi beristirahat keluarga kesultanan dan menerima tamu penting. Sisa-sisa bangunan seperti pendopo dan kolam penampungan air masih dapat ditemukan di pulau tersebut hingga kini.

Danau Tasikardi merupakan bagian dari kawasan situs Banten Lama yang mencakup Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan, Keraton Kaibon, Benteng Speelwijk, Vihara Avalokitesvara, hingga Pasar Lama Serang. Seluruh kawasan ini menggambarkan kemegahan dan peradaban Banten pada masa silam.

Terletak sekitar 11 kilometer dari pusat Kota Serang, Danau Tasikardi kini menjadi destinasi wisata alam dan sejarah yang cukup populer di Banten. Akses menuju lokasi terbilang mudah, baik menggunakan kendaraan roda dua maupun empat melalui rute dari Alun-Alun Kramatwatu ke Jalan Tasikardi.

Meski begitu, Danau Tasikardi menghadapi tantangan serius. Pendangkalan akibat sedimentasi serta pencemaran dari limbah membuat kondisi danau kian terancam. Pemerintah daerah telah menginisiasi sejumlah program revitalisasi, seperti pengerukan dan penanaman pohon di sekitar danau sebagai upaya konservasi.

Danau Tasikardi bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah saksi bisu peradaban yang pernah jaya, sekaligus cermin kemampuan teknis masyarakat masa lalu dalam mengelola sumber daya alam. Keindahan dan nilai historisnya menjadi alasan kuat untuk menjaga dan melestarikan warisan ini bagi generasi yang akan datang.

Penulis: TimRed | Harianbanten.co.id