HARIANBANTEN.CO.ID – Ilmu kebal ala Avengers? Ketinggalan zaman! Di Banten, ada ilmu Debus yang bukan cuma legenda, tapi bisa kamu lihat langsung dengan mata kepala sendiri. Serius, ini bukan adegan film Hollywood!

Debus adalah seni bela diri khas Banten yang penuh dengan atraksi ekstrem, dari menyayat tubuh dengan pisau, membakar diri, hingga kebal dari senjata tajam. Yang bikin melongo, para pemain Debus nyaris nggak berdarah, bahkan enggak kesakitan.

Ilmu Debus bukan sembarang atraksi. Sejak zaman Kesultanan Banten, Debus digunakan sebagai alat syiar Islam. Diperkenalkan pada masa Sultan Maulana Hasanuddin, ilmu ini menjadi cara para jawara menarik perhatian rakyat agar masuk Islam, dengan cara yang bikin orang takjub dan kagum.

Secara bahasa, ‘debus’ berasal dari Arab, mengacu pada senjata tajam berbentuk bulat dan runcing. Nggak heran kalau aksinya selalu identik dengan benda-benda tajam dan aksi kebal yang bikin bulu kuduk merinding.

Yang bikin lebih seru lagi, konon ilmu ini bisa ditularkan ke penonton yang berani coba!

Debus Lawan Kolonial: Bikin Belanda Mental!

Bukan cuma buat pamer, ilmu Debus juga pernah jadi senjata lawan penjajah. Sultan Ageng Tirtayasa bahkan memanfaatkan para jawara Debus untuk memompa semangat rakyat Banten dalam melawan Belanda.

Pasukan kolonial sampai gentar melihat aksi jawara-jawara kebal senjata. Salah satu respons Belanda adalah membangun proyek raksasa: Bendungan Pamarayan.

Pembangunan bendungan ini dimulai pada 1905 dan rampung sekitar 1925. Biayanya? Diperkirakan mencapai Rp 100 triliun kalau dihitung dengan nilai sekarang!

Penuh Mitos, Penuh Korban

Di balik megahnya bangunan, Bendungan Pamarayan menyimpan cerita kelam. Dibangun dengan tenaga kerja pribumi hingga 300 ribu orang, banyak yang meninggal karena kelaparan, kelelahan, bahkan tertimbun saat pembangunan.

Menurut warga, ada aura mistis yang kuat di kawasan bendungan. Ruang bawah tanah yang lembab dan gelap disebut-sebut sebagai penjara pekerja di masa kolonial. Banyak yang mengaku mendengar suara-suara aneh atau melihat sosok misterius, terutama saat malam hari.

Salah satu legenda yang paling dikenal adalah tentang Nyai Mujibah, sosok siluman perempuan penunggu bendungan. Konon, Nyai Mujibah kerap meminta korban, terutama dari kalangan pengantin baru.

Kini Jadi Cagar Budaya

Meski menyimpan kisah kelam dan mistis, Bendungan Lama Pamarayan kini dijadikan situs cagar budaya. Warga setempat berusaha merawat dan mengembangkan kawasan ini sebagai destinasi wisata sejarah.

Bendungan ini juga menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Banten, kebanggaan para jawara, dan simbol kekuatan ilmu Debus yang bikin Belanda pun ciut nyali.

Penulis: Red | Harianbanten.co.id