HARIANBANTEN.CO.ID – Kabupaten Pandeglang, Banten, menyimpan segudang peninggalan sejarah dan prasejarah yang tak banyak diketahui publik. Di balik hamparan alamnya yang asri, tersembunyi situs-situs megalitik dan arkeologis yang membentang dari dataran rendah hingga lereng Gunung Pulosari, gunung yang dikenal sakral sejak masa lampau.

Salah satu situs yang menarik perhatian adalah Gunung Pulosari, yang dipercaya sebagai pusat peradaban kuno sekaligus tempat suci bagi masyarakat Banten sebelum masa Kesultanan. Dalam tradisi yang tercatat dalam Babad Banten, diceritakan bahwa Sunan Gunung Jati dan Hasanuddin pernah melakukan perjalanan spiritual ke gunung ini. Di sana mereka menemui para Brahmana dan ajar yang dipercaya menetap di Gunung Pulosari selama lebih dari 10 tahun.

Tak jauh dari gunung tersebut, tersebar situs-situs megalitik yang menjadi saksi bisu kehidupan masa lampau. Situs Batu Gung-Citaman di Kecamatan Menes, misalnya, memperlihatkan jejak punden berundak yang dibentuk mengikuti kontur bukit, mengarah ke puncak Gunung Pulosari. Di titik tertingginya, berdiri menhir sebagai pusat pemujaan yang dikelilingi batu-batu berbentuk mirip gamelan dan pelinggih, formasi yang kerap disebut temu gelang.

Di sekitar situs ini juga ditemukan kolam megalitik Citaman yang berisi batu dakon, batu bergores, hingga pecahan keramik dari Dinasti Sung (abad ke-10 M) dan Dinasti Yan (abad ke-14 M). Semuanya memperkuat dugaan bahwa kawasan ini merupakan pusat kegiatan budaya dan spiritual masa lalu.

Tidak hanya itu, Pandeglang juga memiliki situs Sanghyang Dengdek dan Sanghyang Heuleut, berupa arca manusia sederhana yang dipercaya sebagai representasi nenek moyang, serta Situs Batu Ranjang, dolmen yang menyerupai tempat peristirahatan raja-raja, terbuat dari batu andesit yang dipahat dengan rapi.

Uniknya, di Kampung Cidaresi, ditemukan Batu Tumbung, sebuah batu bergores berbentuk segitiga dengan lubang di tengah, yang oleh warga dianggap sebagai simbol kesuburan dan kemurnian perempuan.

Penemuan lainnya yang tak kalah penting adalah beberapa arca Hindu dari abad ke-7 hingga ke-10 M yang kini tersimpan di Museum Nasional, seperti Arca Brahma, Siwa, Agastya, Durga, dan Ganesa, semuanya berasal dari kawasan Gunung Pulosari.

Sayangnya, sebagian besar situs ini belum banyak dikenal masyarakat luas, bahkan masih minim eksplorasi dan penelitian arkeologis. Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan perhatian khusus terhadap pelestarian situs-situs bersejarah ini, bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga potensi wisata edukatif dan spiritual yang dapat mengangkat citra Pandeglang di mata dunia.

Gunung Pulosari bukan sekadar destinasi alam, melainkan juga gerbang menuju masa silam peradaban Banten yang nyaris terlupakan.

Penulis: Asep Tolet | Harianbanten.co.id