Jejak Pertemuan Dua Pangeran: Ketika Hendrik dari Belanda Menyapa Diponegoro di Pengasingan
HARIANBANTEN.CO.ID — Dalam lintasan sejarah kolonial Hindia Belanda yang kelam, tersimpan satu peristiwa penuh ironi dan kesan, pertemuan antara Pangeran Willem Frederik Hendrik dari Kerajaan Belanda dengan Pangeran Diponegoro, sang pemimpin Perang Jawa, yang kala itu sedang menjalani masa pengasingan di Fort Rotterdam, Makassar.
Pangeran Hendrik, anak ketiga Raja Willem I dari Belanda dan Permaisuri Anna Pavlovna dari Kekaisaran Rusia, tiba di Hindia Belanda pada Oktober 1836 sebagai bagian dari pendidikan militernya. Usianya baru menginjak 16 tahun, namun semangat pengamatannya telah menyalakan bara pemikiran yang tidak lazim bagi kalangan bangsawan kolonial: kritik terhadap kolonialisme itu sendiri.
Mengenal Musuh yang Tertawan
Dalam perjalanan dinasnya ke Sulawesi, Pangeran Hendrik singgah di Makassar. Pada Selasa, 7 Maret 1837, ia menyempatkan diri mengunjungi Benteng Rotterdam, tempat di mana Diponegoro diasingkan sejak 1833. Pertemuan itu dicatat dengan rinci oleh Hendrik dalam buku hariannya, dan juga dalam surat pribadinya yang dikirim kepada sang ayah, Raja Willem I, beberapa hari kemudian dari atas fregat Belona.
Di matanya, Pangeran Diponegoro bukan hanya “mantan musuh kami di Jawa”, sebagaimana ia tulis, tetapi juga pribadi agung yang tertawan secara tidak terhormat. Hendrik mengecam cara Belanda menangkap Diponegoro melalui tipu daya dalam perundingan di Magelang pada 28 Maret 1830. Menurutnya, peristiwa itu telah mencoreng martabat bangsa Belanda sendiri.
Dari Tangga Fort Rotterdam ke Nurani Bangsa
Ketika Pangeran Hendrik mengunjungi tempat tinggal Diponegoro, ia dijamu langsung oleh sang pangeran. Diponegoro bahkan mengajak Hendrik naik ke lantai atas, memperlihatkan ruang tahanan sempitnya yang panas dan tidak layak bagi seorang bangsawan. Meski demikian, Diponegoro tetap menampilkan wajah ceria dan sikap penuh penerimaan.
Bersama Gubernur Sulawesi saat itu, Reinier de Vilitas Busket, Hendrik menyaksikan bagaimana sang pahlawan Jawa menjalani harinya. Diponegoro banyak menghabiskan waktu dengan menggambar dan menyalin Al-Qur’an. Ia diperbolehkan berjalan-jalan di pekarangan dan menunggang kuda, meski tak sering digunakan.
Hendrik mencatat pula perubahan kecil namun bermakna dalam sikap Diponegoro: dari yang sebelumnya hanya menggunakan bahasa Jawa, kini sesekali menggunakan bahasa Melayu. Namun pemilihan katanya mencerminkan sikap sinis terhadap kolonial, karena ia menyebut lawan bicaranya dengan kata “lo” sapaan yang kala itu dianggap kasar oleh kalangan Eropa.
Gema Kezaliman Menembus Batas Benua
Pengalaman Hendrik di Makassar menjadi cermin moral yang dalam. Dalam catatannya, ia meyakini bahwa pengkhianatan Belanda terhadap Diponegoro akan meninggalkan luka sejarah yang tak terlupakan bagi rakyat Jawa. Jika kelak terjadi perang lagi, maka takkan ada pemimpin Jawa yang percaya kepada Belanda dalam meja perundingan. Keyakinan ini juga Hendrik kaitkan dengan penolakan Tuanku Imam Bonjol untuk menyerah karena khawatir mengalami nasib serupa.
Sketsa wajah Diponegoro yang dibuat Hendrik hari itu, berwajah tenang dengan janggut tipis dan mengenakan ikat kepala khas Bugis, menjadi penanda personal atas kesan mendalam yang ia bawa pulang ke Eropa.
Namun suara keadilan tidak terkurung di balik dinding Rotterdam. Pada 1848, menjelang Revolusi Februari di Paris, sebuah surat kabar Prancis memuat artikel yang mengecam perlakuan pemerintah kolonial terhadap Diponegoro. Ada dugaan kuat bahwa Raden Saleh, pelukis keraton yang akrab dengan keluarga Diponegoro dan sering bepergian ke Paris, menjadi narasumbernya.
Dari Benteng ke Kanvas Sejarah
Raden Saleh kemudian mengabadikan peristiwa penangkapan Diponegoro ke dalam lukisan ikonik Penangkapan Pangeran Diponegoro pada tahun 1857. Karya itu bukan sekadar gambar, melainkan jeritan nurani dan kritik visual terhadap kolonialisme. Sumber inspirasinya? Mungkin berasal dari kisah yang dibawa oleh Pangeran Hendrik sendiri, atau dari bisik-bisik pelaut, sahabat, dan rakyat Bumiputra yang tetap setia pada sang pahlawan.
Dalam irisan sejarah ini, pertemuan dua pangeran bukan sekadar diplomasi singkat di balik jeruji kolonial. Ia menjadi kesaksian tentang keadilan yang dirampas, martabat yang dijaga, dan kenangan yang tak lekang oleh waktu.
Penulis: Asep Tolet | Harianbanten.co.id




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.