Keraton Surosowan, Saksi Bisu Kejayaan Kesultanan Banten yang Kini Tinggal Reruntuhan
HARIANBANTEN.CO.ID – Di jantung kawasan Banten Lama, Kota Serang, berdiri sisa-sisa kemegahan Keraton Surosowan. Bukan sekadar puing, kompleks ini pernah menjadi pusat pemerintahan dan budaya Kesultanan Banten sejak abad ke-16.
Keraton Surosowan dibangun pada 1552 oleh Sultan Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati. Istana megah seluas 4 hektare ini menjadi pusat administrasi, tempat tinggal sultan, hingga pusat pengaturan perdagangan dan hubungan internasional. Arsitekturnya memadukan gaya lokal nusantara dengan sentuhan Timur Tengah, Hindu-Buddha, hingga Eropa.
Namun kejayaan itu tak bertahan lama. Memasuki abad ke-17, konflik internal antara Sultan Ageng Tirtayasa dan putranya, Sultan Haji, dimanfaatkan VOC Belanda untuk memperluas pengaruh. Sultan Haji bahkan menyerahkan sebagian kedaulatan Banten kepada Belanda demi mengalahkan ayahnya.
Puncak kehancuran terjadi pada 1808, saat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memerintahkan penghancuran keraton. Batu-batu bangunannya dipakai untuk membangun Benteng Speelwijk dan jalan Anyer–Panarukan.
Kini yang tersisa hanya reruntuhan. Meski begitu, pengunjung masih bisa melihat gerbang utama, tembok benteng setebal 6–8 meter, ruang penerimaan tamu, kolam Rara Denok yang dahulu jadi pemandian putri keraton, hingga sumur tua dan pancuran air.
Keraton Surosowan telah ditetapkan sebagai cagar budaya lewat Keputusan Wali Kota Serang Nomor 233 Tahun 2024. Ekskavasi terus dilakukan untuk mengungkap lebih banyak peninggalan sejarah. Menariknya, wisatawan bisa masuk gratis setiap hari, dari pagi hingga sore.
Tertarik menelusuri jejak kejayaan Kesultanan Banten? Keraton Surosowan siap membawa kamu sejenak kembali ke masa lalu. (red)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.