HARIANBANTEN.CO.ID — Banten memiliki banyak ulama besar, namun nama KH Tubagus Muhammad Falak Abbas menempati tempat istimewa. Lahir di Pondok Pesantren Sabi, Desa Purbasari, Kabupaten Pandeglang, pada 1842, sosok kharismatik ini menghabiskan enam dekade hidupnya menuntut ilmu di Mekkah.

Abah Falak, demikian ia akrab disapa, lahir dari keluarga ulama sekaligus keturunan bangsawan Kesultanan Banten. Ayahnya, KH Tubagus Abbas, adalah pendiri Pondok Pesantren Sabi, sementara ibundanya, Ratu Quraysin, merupakan keturunan Sultan Banten. Dari jalur ayah, silsilahnya terhubung dengan Sunan Gunung Jati, salah satu anggota Walisongo.

Sejak kecil, Abah Falak menunjukkan minat besar pada ilmu agama. Pada usia 15 tahun, ia mulai berkelana menuntut ilmu di Banten dan Cirebon. Dua tahun kemudian, ia memulai perjalanan panjang ke Mekkah untuk memperdalam berbagai disiplin keilmuan.

Menimba Ilmu di Tanah Suci

Di Mekkah, Abah Falak belajar kepada sejumlah ulama terkemuka, di antaranya Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Mansur al-Madani, Sayyid Amin Quthbi, Sayyid Abdullah Jawawi, Affandi Turki, dan Syekh Nawawi al-Falimbani. Bidang keilmuan yang ia kuasai mencakup tafsir, hadits, tasawuf, fiqh, falak (astronomi Islam), hingga hikmah.

Selama tinggal di Mekkah, ia bermukim bersama gurunya, Syekh Abdul Karim, seorang ulama besar asal Banten. Dari Syekh Abdul Karim, Abah Falak menerima baiat sebagai mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

Mengabdi di Tanah Air

Pada 1878, Abah Falak kembali ke Indonesia dan memimpin Pondok Pesantren Sabi. Aktivitas dakwahnya tidak hanya terfokus di Banten, tetapi juga meluas hingga Bogor. Di Pagentongan, Bogor, ia menikah dengan Siti Fatimah dan menetap hingga akhir hayatnya.

Pengaruh Abah Falak diakui luas. Banyak tokoh agama memberikan pengakuan atas kewaliannya, termasuk Habib Umar bin Muhammad bin Hud Al-Attas (Cipayung), Habib Soleh Tanggul (Jawa Timur), dan Habib Ali Al-Habsyi (Kwitang, Jakarta).

Sosok yang Rendah Hati

Abah Falak dikenal berperawakan kecil, tinggi sekitar 150 sentimeter, kulit putih berseri, dan selalu mengenakan udeng. Ia fasih berbahasa Arab, tetapi memilih bahasa Sunda atau Indonesia saat berbicara dengan santri dan tamu. Sikapnya ramah, tutur katanya lembut namun tegas, dan ia dikenal dermawan.

Dalam keseharian, ia selalu membawa tasbih, rajin berdzikir, membaca istighfar, dan bershalawat. Ia juga menjaga kebersihan dan kesehatan, di antaranya dengan kebiasaan memakan telur ayam kampung setiap pagi sambil berkeliling melihat pesantren dan majelis taklim.

Akhir Hayat

KH Tubagus Muhammad Falak Abbas wafat pada 19 Juli 1972, bertepatan dengan 8 Jumadil Akhir 1392 H, di usia 130 tahun. Ia dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Al-Falak, Pagentongan, Bogor. Hingga kini, makamnya ramai diziarahi oleh masyarakat dari berbagai daerah.

Pondok Pesantren Al-Falak kini dikelola oleh keturunannya dan tetap menjadi pusat pendidikan Islam.

Perjuangan Abah Falak menjadi teladan bagi generasi penerus, khususnya dalam menuntut ilmu dan menjaga kemurnian ajaran Islam. (red)