Mahasiswa Sampaikan Aspirasi di Merdeka Bicara, Pemkot Cilegon Tegaskan Komitmen Perbaikan
HARIANBANTEN.CO.ID — Pemerintah Kota Cilegon kembali membuka ruang partisipasi publik melalui forum Merdeka Bicara yang digelar pada Rabu malam (22/4) di Paradiso Garden Cafe.
Kegiatan ini menjadi wadah dialog terbuka antara pemerintah daerah dan mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi, kritik, serta saran secara langsung.
Forum tersebut dihadiri Wali Kota Cilegon Robinsar, Wakil Wali Kota Cilegon Fajar Hadi Prabowo, unsur Forkopimda, pimpinan DPRD, serta jajaran pejabat eselon II di lingkungan Pemkot Cilegon. Puluhan mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan turut hadir dan aktif berpartisipasi.
Wali Kota Cilegon Robinsar mengatakan, kegiatan Merdeka Bicara bertujuan menjaring aspirasi sekaligus memperkuat komunikasi dua arah antara pemerintah dan generasi muda.

“Kegiatan ini kami hadirkan untuk menampung aspirasi, keluhan, kritik, dan saran dari mahasiswa. Pemerintah berkomitmen membuka ruang dialog agar isu-isu yang mungkin belum terjangkau dapat masuk dalam perencanaan program kerja,” ujar Robinsar.
Ia menegaskan, pemerintah daerah terbuka terhadap kritik yang konstruktif. Dalam forum tersebut, sejumlah isu strategis mencuat, mulai dari kasus kekerasan dan pencabulan, persoalan infrastruktur seperti drainase dan banjir, hingga peningkatan kualitas pendidikan.
Terkait kasus kekerasan dan pencabulan, Robinsar menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk mempercepat penanganan melalui dinas terkait dan unit perlindungan perempuan dan anak.
Di sektor infrastruktur, Pemkot Cilegon disebut terus melakukan pembenahan drainase dan penanganan banjir, serta pengembangan taman layak anak. Sementara di bidang pendidikan, pemerintah mengoptimalkan anggaran melalui pemetaan kebutuhan, baik dari APBD maupun dukungan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Selain itu, Pemkot Cilegon juga menyiapkan program di sektor pertanian melalui penggunaan bibit unggul untuk meningkatkan produktivitas hasil panen. Robinsar mengajak mahasiswa untuk terlibat dalam program tersebut sebagai bentuk kolaborasi.
“Sekitar 70 persen aspirasi yang disampaikan mahasiswa sebenarnya sudah masuk dalam perencanaan atau sedang dalam tahap implementasi. Forum ini bukan ajang pembelaan, tetapi ruang untuk menyampaikan progres dan memperkuat komunikasi,” kata dia.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Cilegon Fajar Hadi Prabowo menyampaikan bahwa forum tersebut merupakan tindak lanjut dari aspirasi mahasiswa sejak awal masa kepemimpinan.
“Sejak awal kami menjabat, kami telah menerima aspirasi mahasiswa. Dari situlah muncul inisiatif menghadirkan forum dialog agar mahasiswa dapat mengawal pembangunan dan menyampaikan suaranya secara langsung,” ujar Fajar.
Ia juga mengapresiasi tingginya antusiasme mahasiswa dalam kegiatan tersebut.
“Merdeka Bicara kali ini menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi. Banyak pertanyaan dan masukan yang disampaikan. Ini menandakan kepedulian mahasiswa terhadap pembangunan Kota Cilegon sangat besar,” ucapnya.
Dalam forum itu, perwakilan mahasiswa dari GMNI Kota Cilegon, Sarinah Hani, menyoroti isu perlindungan perempuan dan anak. Ia menilai Cilegon tengah menghadapi situasi darurat terkait maraknya kasus pelecehan seksual.
“Cilegon saat ini darurat aman terkait kasus pelecehan seksual. Kami berharap ada langkah nyata dan tegas dari pemerintah serta aparat penegak hukum agar kasus ini tidak terus berulang,” ujarnya.
Sarinah juga mempertanyakan aksesibilitas layanan perlindungan perempuan dan anak, serta menyoroti kondisi taman layak anak yang dinilai belum sepenuhnya memenuhi standar. Menurut dia, masih ditemukan fasilitas yang rusak, belum tersedianya ruang ramah ibu menyusui, serta aktivitas merokok di area taman.
“Harus ada pengawasan dan pembenahan yang lebih serius, karena taman layak anak seharusnya menjadi ruang yang aman, nyaman, dan sehat bagi anak-anak,” katanya.
Ia juga mendorong pemerintah daerah untuk menyosialisasikan dan mengimplementasikan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT) secara optimal di tingkat daerah.
Menutup pernyataannya, Sarinah menegaskan bahwa segala bentuk pelecehan seksual tidak boleh ditoleransi.
“Kami berharap tidak ada lagi toleransi terhadap segala bentuk pelecehan seksual. Ini harus menjadi komitmen bersama,” ucapnya. (Adv)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.