HARIANBANTEN.CO.ID — Di sudut timur Kabupaten Pandeglang, tepatnya di Kampung Cibuntu, Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk, berdiri sebuah masjid kuno yang menyimpan jejak panjang sejarah keislaman di Banten. Masjid Hasaniyah, begitu masyarakat menyebutnya, dibangun pada 1926 oleh seorang ulama kharismatik, Abuya KH Hasan Armin atau yang lebih dikenal sebagai Abuya Mama Armin Cibuntu.

Berjarak sekitar 13,5 kilometer dari Alun-alun Pandeglang, masjid ini dapat dijangkau melalui jalur Rumingkang menuju arah timur. Namun, akses menuju lokasi masih terbilang sulit. Jalan desa yang dilalui sebagian besar belum beraspal, dengan kondisi berbatu dan menanjak, menandakan bahwa kawasan ini telah lama tak tersentuh pembangunan infrastruktur secara signifikan.

Meski demikian, keberadaan masjid ini tak dapat dipandang sebelah mata. Arsitekturnya unik, mengadopsi gaya Timur Tengah dengan menara segi delapan setinggi sekitar 15 meter di sisi barat masjid. Menara empat lantai ini mengingatkan pada bentuk Menara Masjid Agung Banten Lama, lengkap dengan tangga dalam dan ornamen pagar besi yang estetis.

Dari Menes ke Cibuntu

Abuya Hasan Armin berasal dari Menes, Pandeglang. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, yakni Ki Adam, Ki Romani, dan dirinya sendiri. Ketiganya dikenal memiliki watak dan kecenderungan yang berbeda sejak kecil. Abuya Hasan dikenal sebagai sosok yang tekun menuntut ilmu agama.

Perjalanan hidupnya membawa dia ke Desa Cibuntu atas permintaan seorang pemilik tanah yang ingin membangun pesantren. Setelah menjalani masa tinggal awal di kampung tersebut, Abuya kemudian diberikan amanah untuk mengembangkan pesantren. Ia menikah dengan putri sang pemilik tanah dan mulai membangun pusat pendidikan Islam yang kelak dikenal luas.

Untuk memperdalam ilmu keislaman, Abuya Hasan Armin mengembara ke berbagai negara di Jazirah Arab selama 28 tahun. Beberapa negara yang dikunjunginya antara lain Saudi Arabia, Mesir, Turki, Irak, Palestina, Suriah, Kuwait, Lebanon, dan Yordania. Ia juga pernah berguru langsung kepada Syekh Nawawi al-Bantani dari Tanara, seorang ulama besar asal Banten.

Pusat Pendidikan dan Tarekat

Di masa jayanya, Pesantren Cibuntu memiliki lebih dari 400 santri yang tinggal di beberapa kobong atau asrama. Untuk memudahkan administrasi dan pengelompokan, diterapkan sistem kluster berdasarkan asal daerah santri. Salah satu kluster yang unik adalah Pondok Al-Badui, khusus untuk santri dari Pandeglang dan sekitarnya.

Selain mengajarkan ilmu syariat, Abuya Hasan Armin juga dikenal sebagai mursyid (pembimbing rohani) tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dalam kepemimpinannya, Abuya menekankan pentingnya kebersihan dalam ubudiyah (ibadah), mulai dari thaharah (bersuci), lingkungan bersih, hingga hati yang bersih. Santri diwajibkan menjaga kebersihan badan, pakaian, dan sekelilingnya.

Pesantren ini juga menjadi pusat pengajian mingguan. Setiap Selasa untuk perempuan dan Rabu untuk laki-laki. Pengajian ini bahkan menciptakan “pasar pekan” karena ribuan jemaah berdatangan, berjalan kaki dari berbagai pelosok seperti Pasir Angin, dan memadati area hingga beberapa kilometer dari pesantren.

Akhir Kehidupan dan Warisan

Abuya Hasan Armin wafat pada tahun 1988 dalam usia 108 tahun. Ia dimakamkan di halaman depan Masjid Hasaniah, berdampingan dengan makam istri-istrinya dalam bangunan beratap yang disebut makbarah. Satu-satunya anak dari istri pertama juga dimakamkan tak jauh dari lokasi tersebut, yaitu Siti Julaiha.

Setelah kepergiannya, jumlah santri dan pengunjung pesantren menurun. Beberapa generasi penerusnya kini mengelola pesantren di tempat lain, termasuk di Metro, Lampung. Namun, cucunya telah kembali membangun pesantren baru di sekitar Masjid Hasaniah, sebagai bentuk pelestarian warisan.

Keunikan masjid ini juga terletak pada dua ruangan khusus yang dinamai sesuai nama dua istri Abuya, yakni Hajah Siti Aisyah dan Hajah Siti Hamah, yang berada di sayap kiri dan kanan masjid. Di dalam masjid juga terdapat dua mihrab dan sekat dinding berpintu yang mempertegas nuansa masjid kuno khas Banten.

Kini, Masjid Hasaniah tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga situs sejarah yang merekam kejayaan pendidikan Islam di Pandeglang. Ia menjadi saksi bisu dari dedikasi seorang ulama dalam menyebarkan ilmu, membina umat, dan meninggalkan warisan keilmuan yang tak lekang oleh zaman.

Sumber: YouTube /Mang Dhepi
Penulis: Red | Harianbanten.co.id