HARIANBANTEN.CO.ID – Terletak di Kampung Manungtung, Desa Cilaban Bulan, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, Masjid Cikoneng atau yang kini dikenal warga sebagai Masjid Manungtung berdiri sebagai saksi bisu perjuangan syiar Islam dan perlawanan terhadap penjajah di masa lalu.

Masjid bercat putih dengan luas bangunan sekitar 300 meter persegi ini diperkirakan telah berdiri selama ratusan tahun. Meski tidak terdapat catatan resmi mengenai tahun pendiriannya, warga meyakini masjid ini dibangun setelah berdirinya Masjid Agung Caringin yang berada di Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Pandeglang.

Masjid Agung Caringin sendiri dibangun pada tahun 1884 oleh seorang ulama besar bernama Ki Ageng Asnawi Caringin pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Daendels (1808–1811). Jika merujuk pada informasi ini, maka usia Masjid Cikoneng dapat diperkirakan tidak jauh berbeda.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Cikoneng, Abdul Hakim, mengungkapkan bahwa tidak ada dokumen tertulis yang menjadi bukti sejarah berdirinya masjid tersebut. Namun, ia mendengar bahwa sejumlah catatan tentang Masjid Cikoneng tersimpan di Masjid Caringin.

“Catatan sejarah tidak ada di sini, katanya ada di Caringin. Karena memang masjid ini adalah masjid kedua setelah Masjid Caringin,” ujar Hakim.

Menurut Hakim, terdapat ikatan keluarga antara tokoh masyarakat Manungtung dan Syekh Asnawi Caringin. Bahkan, sebagian pekerja pembangunan Masjid Cikoneng berasal dari Caringin. Tak heran jika bentuk arsitektur antara kedua masjid memiliki banyak kesamaan.

Masjid Cikoneng memiliki dua menara dan dua ruangan utama. Satu ruangan digunakan sebagai tempat salat, yang ditopang empat tiang kayu nangka berusia ratusan tahun. Ruangan lainnya berfungsi sebagai tempat musyawarah. Menurut Hakim, bentuk mimbar dan tempat imam di masjid ini memiliki kemiripan dengan Masjid Agung Demak di Jawa Tengah.

“Waktu saya ikut ziarah ke Walisongo dan mengunjungi Masjid Demak, saya lihat bentuknya hampir mirip. Hanya saja Masjid Demak ukurannya lebih besar,” katanya.

Tak hanya sebagai tempat ibadah, Masjid Cikoneng juga memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan. Sebelum berangkat berjuang melawan penjajah, para pejuang dari Kampung Manungtung biasa berkumpul dan bermusyawarah di masjid ini.

“Sebelum berangkat perang, mereka kumpul dulu di masjid. Termasuk kakek saya yang pernah dihukum Belanda selama 20 tahun karena ikut melawan penjajah,” ujar Hakim.

Meski telah berusia ratusan tahun, struktur asli masjid ini masih dipertahankan. Tiang kayu penyangga dan mimbar tetap utuh seperti sedia kala. Hanya bagian dinding yang telah dipasangi keramik, serta beberapa perbaikan di tempat wudu untuk menjaga kebersihan dan keawetan bangunan.

“Tidak ada perubahan bentuk. Hanya di bagian dinding saja yang diperbaiki. Tiang-tiang dan bagian lainnya masih seperti dulu,” jelasnya.

Sayangnya, hingga kini Masjid Cikoneng belum ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah daerah. Abdul Hakim dan warga setempat berharap, masjid yang menjadi simbol perjuangan masyarakat Manungtung ini mendapat perhatian agar nilai sejarahnya tidak hilang ditelan waktu.

“Harapan kami, masjid ini bisa dijadikan cagar budaya. Karena dulunya warga Manungtung banyak yang ikut memperjuangkan kemerdekaan,” pungkasnya.

Penulis: Tolet | Harianbanten.co.id