Pempek: Sejarah Panjang Zaman Sriwijaya di Balik Kelezatan Kuliner Palembang
Kenikmatan menyantap pempek tak hanya terletak pada tekstur lembutnya atau kuah cuko yang pedas-asam, tetapi juga pada jejak sejarah panjang yang mengiringinya.
HARIANBANTEN.CO.ID – Berkunjung ke Palembang, Sumatra Selatan, tak lengkap rasanya jika belum mencicipi pempek. Makanan yang terbuat dari campuran ikan giling dan tepung sagu ini tak hanya populer sebagai kudapan, tetapi juga telah menjadi identitas budaya kuliner masyarakat Palembang. Cita rasa gurih, pedas, dan sedikit asam dari kuah cukonya menjadikan pempek digemari lintas generasi.
Walau sejumlah daerah di Sumatra seperti Jambi dan Bengkulu juga mengenal pempek, kota Palembang tetap menjadi pusat dari kudapan ini. Di balik kelezatannya, ternyata pempek menyimpan kisah sejarah yang panjang. Diperkirakan, pempek telah ada sejak abad ke-7 Masehi, tepatnya pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya.
Jejak Sejarah di Balik Kuah Cuko
Menurut pengajar sejarah dari Universitas PGRI Palembang, Kabib Sholeh, dalam tulisannya mengenai Prasasti Talang Tuo, ditemukan bukti bahwa tanaman seperti sagu dan aren, bahan dasar pempek dan kuah cukonya, telah dibudidayakan pada masa Sri Jayanasa sekitar tahun 684 Masehi. Prasasti yang ditemukan oleh L.C. Westenenk pada 1920 ini menjadi penanda awal jejak kuliner di kawasan Sriwijaya.
Sejarawan Palembang, Kemas Ari Panji, menambahkan bahwa tanaman sagu dan aren yang disebut dalam prasasti itu memperkuat dugaan bahwa masyarakat masa itu telah mengembangkan kuliner berbahan dasar pati, seperti yang kita temukan dalam pempek hari ini.
Sebelum dikenal dengan sebutan pempek, makanan ini disebut “kelesan”, merujuk pada proses pembuatannya yang ditekan-tekan menggunakan piri’an (mangkuk berlubang). Sekitar tahun 1916, seorang keturunan Tionghoa yang akrab disapa “Apek” mulai menjual kelesan di sekitar Masjid Agung Palembang. Sejak saat itu, masyarakat lebih akrab menyebutnya dengan nama “pempek”, yang diyakini berasal dari panggilan sang penjual.
Pempek, Ragam dan Resepnya
Pempek memiliki banyak variasi, seperti lenjer, kapal selam, adaan, hingga kulit, semuanya memiliki penggemarnya masing-masing. Adonan dasar pempek juga digunakan untuk membuat makanan lain seperti tekwan, laksan, dan celimpungan, yang disajikan dengan kuah beragam.
Pada mulanya, pempek dibuat dari ikan belida, ikan endemik Sungai Musi. Kini, karena kelangkaannya, ikan tersebut digantikan oleh tenggiri, gabus, atau kakap. Ikan sungai seperti gabus dinilai memiliki aroma lebih ringan dibanding ikan laut, sehingga banyak dipilih untuk menjaga cita rasa autentik pempek.
Ingin mencoba membuat pempek sendiri di rumah? Berikut resep singkatnya:
Bahan Utama Pempek:
- 500 gr daging ikan tenggiri giling
- 250 gr tepung kanji
- 4 butir telur
- 200 ml air
- 2 sdt garam
- 25 gr tepung terigu
Bahan Kuah Cuko:
- 1 liter air
- 250 gr gula merah
- 60 gr asam jawa
- 2 sdm ebi sangrai
- 2 sdm cuka masak
- Bumbu halus: cabai rawit, bawang putih, tongcai, garam
Campur dan masak semua bahan kuah hingga mendidih dan harum. Untuk pempeknya, buat adonan hingga kalis, bentuk sesuai jenis (lenjer atau kapal selam), rebus hingga mengapung, lalu goreng hingga kecokelatan. Sajikan bersama mi kuning dan potongan timun.
Kelezatan yang Diakui Dunia
Kini, kelezatan pempek tidak hanya dikenal di Nusantara. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tengah mengupayakan agar pempek diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO. Prosesnya memang panjang, namun tak sebanding dengan kekayaan makna dan sejarah yang terkandung dalam setiap gigitan pempek.
Penulis: Red | HARIANBANTEN.CO.ID



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.