HARIANBANTEN.CO.ID – Nama Pangeran Diponegoro lekat dalam ingatan bangsa Indonesia sebagai tokoh sentral dalam Perang Jawa (1825–1830), sebuah perang besar yang mengguncang fondasi kekuasaan kolonial Belanda di tanah Jawa.

Namun, di balik keteguhan hati dan keberanian sang pangeran, ada sosok perempuan kuat yang membentuk nilai-nilai spiritual dan semangat perjuangannya sejak kecil. Sosok itu adalah Ratu Ageng Tegalrejo, nenek buyut sekaligus pengasuh yang sangat berperan dalam kehidupan Pangeran Diponegoro.

Permaisuri Raja Pertama Yogyakarta

Ratu Ageng Tegalrejo merupakan istri dari Sri Sultan Hamengkubuwono I, pendiri sekaligus raja pertama Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Ia lahir dengan nama Niken Ayu Yuwati pada tahun 1732 di Sragen, Jawa Tengah.

Pertemuannya dengan Pangeran Mangkubumi, yang kelak bergelar Hamengkubuwono I, terjadi di tengah berlangsungnya Perang Suksesi Jawa Ketiga, sebuah konflik antara keturunan Mataram Islam. Dalam masa-masa perjuangan itu, Ratu Ageng tak hanya menjadi pendamping, tetapi juga tokoh penting yang membentuk satuan pasukan perempuan yang dikenal dengan nama Prajurit Estri Langenkusumo.

Meninggalkan Keraton, Mendirikan Tegalrejo

Setelah Hamengkubuwono I wafat, Ratu Ageng memilih untuk meninggalkan lingkungan keraton. Perbedaan pandangan hidup dengan sang putra, Hamengkubuwono II, menjadi alasan utama kepergiannya.

Ia kemudian menetap di wilayah Tegalrejo, Yogyakarta. Di sana, ia mendirikan sebuah pesantren, membuka lahan pertanian, dan hidup sederhana bersama para santri dan rakyat sekitar. Sejak saat itu, ia dikenal dengan julukan Ratu Ageng Tegalrejo.

Yang menarik, ia membawa serta Pangeran Diponegoro kecil untuk diasuh dan dididik secara langsung. Di bawah asuhan Ratu Ageng, Diponegoro dibekali pendidikan agama yang kuat, nilai-nilai keadilan sosial, serta semangat kemandirian.

Menyebarkan Ajaran Tarekat

Di Tegalrejo, Ratu Ageng aktif menyebarkan ajaran Islam yang bernafaskan Tarekat Syattariyah, salah satu aliran tasawuf yang menekankan kedalaman spiritual dan kesederhanaan hidup. Ia menjadi tokoh yang dihormati masyarakat karena kedalaman ilmunya dan keteladanan hidupnya.

Kiprah spiritual dan sosial Ratu Ageng di Tegalrejo tidak hanya memberikan pengaruh besar bagi komunitas sekitar, tetapi juga membentuk karakter Pangeran Diponegoro sebagai pemimpin yang religius, tegas, dan berpihak kepada rakyat.

Warisan Tak Tertulis

Meski namanya tak sepopuler sang cucu, Ratu Ageng Tegalrejo meninggalkan warisan penting bagi sejarah bangsa. Ia adalah simbol perempuan Jawa yang berpendidikan, berani mengambil keputusan besar, dan menjadi pembentuk nilai-nilai luhur dalam lingkup keluarga kerajaan.

Dari tangan dan keteladanannyalah, seorang pejuang besar seperti Pangeran Diponegoro tumbuh dan berkembang.

Penulis: Red | Harianbanten.co.id