HARIANBANTEN.CO.ID – Siapa sangka sosok pemuda gagah dalam foto lawas itu ternyata adalah orang yang sama dengan kakek berjenggot panjang yang pernah duduk di forum-forum internasional? Ya, beliau adalah Kiai Haji Agus Salim, ulama, pejuang, diplomat, dan guru bangsa legendaris Indonesia.

Dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh pada masa awal kemerdekaan, KH Agus Salim tak hanya menguasai berbagai bidang dari jurnalisme hingga filsafat, tapi juga menjadi salah satu diplomat ulung yang membawa nama Indonesia di panggung dunia.

Poliglot Jenius, Lulusan Terbaik HPS

Kecerdasannya sudah terlihat sejak muda. Agus Salim lulus dengan predikat terbaik dari Hoogereburgerschool (HBS), mengungguli murid-murid keturunan Belanda dan Asia Timur.

Tak hanya itu, ia dikenal sebagai seorang poliglot, menguasai belasan bahasa asing dan daerah. Mulai dari Belanda, Arab, Inggris, Jepang, Perancis, Jerman, Mandarin, Latin, hingga Turki. Bahasa Melayu, Minang, Jawa, dan Sunda pun ia kuasai.

Kepiawaiannya dalam bahasa membuatnya dipercaya memimpin berbagai misi diplomatik Indonesia. Salah satunya ke Timur Tengah, selama berbulan-bulan, demi menggalang dukungan dan pengakuan internasional atas kedaulatan Indonesia.

Bawa Nama Indonesia Diakui Dunia

Hasilnya? Gemilang. Lewat diplomasi cerdasnya, Indonesia berhasil mendapatkan pengakuan de jure sebagai negara berdaulat dari Mesir, Libanon, Suriah, Arab Saudi, hingga Irak.

Tak berhenti di situ, kiprahnya juga tercatat dalam berbagai momen penting, seperti Perjanjian Linggarjati, Perundingan Renville, Sidang ILO di Jenewa, hingga Sidang Dewan Keamanan PBB.

Sosok yang Dikagumi Bung Karno dan Dunia

Dalam buku 100 Tahun Haji Agus Salim, banyak tokoh menyampaikan kesan mendalam tentang dirinya. Presiden Soekarno menyebutnya sebagai gurunya dalam sosialisme dan politik internasional.

“Saya pernah meneguk air yang diberikan oleh Haji Agus Salim sambil nyesot di bawah kakinya. Seorang guru saya, terutama sekali tentang sosialisme dan politik internasional,” kata Bung Karno.

Hamka bahkan menyebutnya sebagai “manusia yang nilainya sama dengan sejuta manusia”.

Profesor Samer Horn, dalam catatannya tahun 1946 menulis, “Orang tua yang sangat pandai ini adalah seorang yang sangat jenius dalam hal bahasa… dan mempunyai hanya satu kelemahan, yaitu selama dalam hidupnya melarat.”

Pilih Hidup Sederhana demi Totalitas

Meski punya kemampuan untuk hidup nyaman, KH Agus Salim memilih hidup sederhana. Ia sering berpindah dari satu gang sempit ke gang sempit lainnya, demi menjaga keikhlasan dan totalitas perjuangannya.

“Pemimpin adalah tentang berani menderita. Bukan tentang berapa rupiah yang kau dapat dari negara, tapi apa yang kau berikan untuk negara,” begitu kira-kira pesan yang tertinggal darinya.

Sosoknya membuat lawan politik segan, dan kawan-kawannya penuh hormat.

Selamat jalan, Guru Bangsa. Amal dan jasamu abadi sepanjang zaman.

Penulis: Asep Tolet | Harianbanten.co.id