Tradisi Langkahan di Cilegon, Simbol Restu Kakak bagi Adik yang Menikah Lebih Dulu
HARIANBANTEN.CO.ID – Di tengah arus modernisasi, sebagian masyarakat Jawa di Kota Cilegon, Banten, masih memegang teguh sebuah tradisi yang sarat nilai kekeluargaan, yakni langkahan atau pelangkahan. Tradisi ini dilakukan ketika seorang adik menikah lebih dulu dibanding kakak kandungnya.
Bagi masyarakat yang meyakininya, menikah mendahului kakak tanpa prosesi ini dianggap kurang sopan dan berpotensi menimbulkan ketidakharmonisan dalam keluarga. Langkahan pun menjadi simbol permohonan maaf, penghormatan, dan harapan agar kakak yang belum menikah segera dipertemukan dengan jodohnya.
Pelangkahan intinya adalah meminta restu kakak, sekaligus menjaga hubungan baik antara adik dan kakak dalam keluarga.
Bentuk dan Makna Pelangkahan
Pelangkahan biasanya dilakukan dengan memberikan hadiah atau seserahan kepada kakak yang dilangkahi. Barang tersebut dapat berupa uang tunai, perhiasan, pakaian, tas, atau barang lain yang disukai sang kakak.
BACA JUGA: Pameran Senjata Tradisional di Gedung Negara Banten, Golok Ciomas Jadi Sorotan
Tradisi ini, menurut para ulama dan ahli hukum keluarga, tidak bertentangan dengan ajaran agama selama dilakukan dengan niat baik dan tidak memberatkan pihak yang akan menikah.
Selain hadiah, prosesi langkahan juga melibatkan sejumlah perlengkapan yang sarat makna simbolis, antara lain:
- Tumpeng Golong melambangkan kesucian niat.
- Ayam Ingkung Bakar sebagai simbol penghormatan dan pembersihan dari kesalahan.
- Air Bunga Telon yang menandakan kesejukan hati dan harum nama keluarga.
- Tongkat Tebu Wulung sebagai pengingat akan kemantapan hati.
- Benang Lawe sebagai simbol ikatan kasih sayang kakak-adik.
Prosesi Penuh Simbol
Upacara langkahan umumnya dilaksanakan sebelum akad nikah dengan dipandu oleh dukun manten dan dihadiri keluarga besar. Prosesi dimulai ketika kakak duduk diapit orang tua, sementara calon pengantin bersimpuh untuk memohon maaf dan izin menikah lebih dahulu.
BACA JUGA: Aksi Romantis Wali Kota Cilegon di BC-FIFA 2025, Bikin Istri Senyum Berbunga-bunga
Setelah restu diberikan, keduanya memutari perlengkapan upacara menggunakan tongkat tebu wulung, kemudian kakak memutus benang lawe sebagai tanda izin resmi. Calon pengantin menyerahkan hadiah pelangkahan, menyuapkan ayam ingkung dan tumpeng kepada kakak, lalu dituntun menuju lokasi akad nikah.
Pandangan Islam Soal Menikah Mendahului Kakak
Dalam syariat Islam, tidak terdapat hukum khusus yang melarang pernikahan melangkahi kakak. Ustadz Ahmad Sarwat Lc. menjelaskan, Islam hanya menganjurkan seorang adik untuk menghormati kakaknya yang lebih tua.
BACA JUGA: 10 Kolam Pemancingan Terdekat di Cilegon untuk Anda yang Hobi Mancing
“Jika kakak tidak keberatan, adik boleh menikah lebih dulu. Namun jika dikhawatirkan menimbulkan sakit hati, sebaiknya dimusyawarahkan terlebih dahulu,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Buya Yahya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah. Menurutnya, tidak ada larangan menikah mendahului kakak dalam Islam. Bahkan, seseorang dianjurkan segera menikah jika sudah siap, terutama untuk menghindari perbuatan yang dilarang agama.
Jika larangan menikah melangkahi kakak muncul, hal itu murni merupakan aturan adat untuk menghormati kedudukan sang kakak, bukan ketentuan syariat. Menurut Buya Yahya, melarang orang yang sudah siap menikah hanya karena alasan melangkahi kakak dapat termasuk perbuatan zalim.
BACA JUGA: Logo Resmi HUT ke-80 RI Diluncurkan: Semangat Bersatu Menuju Indonesia Maju
Menjaga Harmoni antara Adat dan Agama
Meski tradisi langkahan berakar dari budaya Jawa, banyak keluarga di Cilegon tetap menjalankannya. Bagi mereka, prosesi ini menjadi ruang untuk mengungkapkan rasa hormat, sekaligus mempererat hubungan antaranggota keluarga.
Dengan pemahaman agama yang tepat, tradisi ini dapat dijalankan tanpa bertentangan dengan syariat Islam, asalkan tidak memberatkan atau menghalangi tujuan utama pernikahan.
Meski sebagian orang kini memandang larangan menikah mendahului kakak sebagai mitos, tradisi langkahan tetap dijalankan oleh banyak keluarga Jawa di Cilegon. Bagi mereka, tradisi ini adalah wujud penghormatan terhadap kakak dan orang tua, serta cara menjaga keharmonisan hubungan keluarga. (Asp/red)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.