HARIANBANTEN.CO.ID – Kisah Nyai Dasima bukan hanya legenda lama dari masa kolonial, tapi juga potret nyata getirnya cinta dalam pusaran kekuasaan dan patriarki. Berawal dari hubungan tanpa ikatan resmi dengan pejabat Inggris, berujung di tragedi pembunuhan dan hukuman gantung di tengah Kota Batavia.

Lahir di Kuripan, Bogor, Dasima muda merantau ke Batavia untuk mengadu nasib. Nasib membawanya menjadi nyai atau gundik dari Edward Williams, orang kepercayaan Gubernur Jenderal Raffles pada masa pendudukan Inggris di Hindia Belanda. Dari hubungan itu, mereka dikaruniai seorang anak perempuan bernama Nancy.

Hidup mewah pun dijalani Dasima. Mereka sempat tinggal di Curug (kini wilayah Tangerang), lalu pindah ke rumah megah di Pejambon, Batavia—belakang Gedung Departemen Agama sekarang. Kala itu, kali Ciliwung masih jernih mengalir di belakang rumah mereka.

Namun, status sebagai nyai bukan tanpa beban. Dalam masyarakat kolonial yang patriarkis, hubungan itu tak diakui secara hukum maupun agama. Dan dari sinilah kisah kelam Dasima dimulai.

Samiun, pria Betawi yang sudah beristri, jatuh hati pada Dasima. Melalui perantara pembantu bernama Mak Buyung, ia membujuk Dasima agar meninggalkan Williams dan menikah dengannya secara sah. Bujuannya tak main-main: ia membawa-bawa agama.

“Apa artinya hidup mewah kalau penuh dosa?” rayu Mak Buyung. “Lebih baik menikah sah dengan Bang Samiun.”

Dasima pun luluh. Ia meninggalkan rumah, harta, dan anaknya, demi menikahi Samiun. Tapi ternyata, Samiun tak setulus yang dikira. Ia sudah beristri, Hayati namanya. Meski awalnya mengizinkan poligami dengan syarat tak tinggal serumah, Hayati akhirnya dilanda cemburu.

Cemburu itu berubah jadi dendam. Hayati menyewa Bang Puase, seorang jagoan Kuitang, untuk menghabisi Dasima. Saat Samiun pergi kondangan, Bang Puase melaksanakan rencana keji itu.

Mayat Dasima ditemukan mengambang di Kali Ciliwung. Lokasi pembuangan jasadnya adalah jembatan Kuitang, tak jauh dari Toko Buku Gunung Agung dan Markas Marinir di kawasan Kwitang sekarang. Anaknya, Nancy, yang pertama kali mengetahui mayat ibunya.

Saksi mata menyebut Bang Puase sebagai pelaku. Ia pun ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung oleh Pemerintah Kota Batavia. Eksekusi dilakukan secara terbuka di depan Balai Kota, yang kini menjadi Museum Fatahillah. Ratusan orang menyaksikan akhir tragis cerita Nyai Dasima.

Kisah ini pernah diangkat ke film bisu pada 1929 dan dilagukan oleh Benyamin Sueb. Tapi lebih dari sekadar cerita lama, kisah Dasima menggambarkan getirnya cinta dan ketidakadilan bagi perempuan di masa kolonial. Sebuah pelajaran pahit dari sejarah yang tak boleh dilupakan.

Penulis: Asep Tolet | Harianbanten.co.id