HARIANBANTEN.CO.ID Sanghyang Sirah, sebuah tempat yang dipercaya sebagai “kepala” Pulau Jawa, bukan sekadar lokasi biasa. Terletak di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, tempat ini dikenal sakral dan dikeramatkan oleh sebagian masyarakat adat. Di balik keindahannya yang tersembunyi di ujung barat Jawa, Sanghyang Sirah menyimpan segudang mitos, cerita legenda, dan pantangan yang dipercaya hingga kini.

Akses menuju Sanghyang Sirah tidak mudah. Lokasinya berada di sekitar Samudra Hindia, wilayah yang dikenal dengan ombak besarnya. Gelombang laut di kawasan ini kabarnya bisa mencapai tinggi 20 meter. Untuk sampai ke sana, pengunjung harus menempuh perjalanan laut sekitar 6 jam menggunakan kapal. Karena itu, bagi yang ingin berziarah atau melakukan wisata spiritual ke tempat ini, mental dan fisik harus benar-benar disiapkan.

Bukan Sekadar Lokasi, Tapi Warisan Leluhur

Menurut informasi yang dihimpun dari beberapa kasepuhan adat dan laporan media lokal, Sanghyang Sirah bukan hanya titik geografis, melainkan juga bagian dari narasi besar budaya dan spiritualitas masyarakat Sunda. Mitos-mitos yang berkembang menyebutkan bahwa tempat ini menjadi lokasi sakral yang dijaga oleh kekuatan alam dan leluhur.

Cerita-cerita tentang Sanghyang Sirah diwariskan secara turun temurun. Salah satu kepercayaan yang masih dipegang erat adalah pamali atau Poma Ulah Lali—peringatan agar jangan melupakan pantangan atau larangan yang telah ditetapkan. Bagi masyarakat adat, melanggar pantangan tersebut diyakini dapat membawa bencana, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Mitos dan Larangan yang Masih Dipegang

Di Sanghyang Sirah, ada beberapa larangan keras yang tetap dijaga. Beberapa di antaranya antara lain:

  • Tidak boleh berkata kasar atau sompral saat berada di lokasi.
  • Tidak diperkenankan mengambil apapun dari area keramat.
  • Dilarang berbuat mesum atau melakukan perbuatan tidak senonoh.
  • Tidak boleh menyombongkan diri atau meremehkan kekuatan alam.

Meski terdengar mistis, mitos-mitos ini justru menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian tempat tersebut. Di era modern, sebagian orang mungkin mengabaikan mitos karena tak sesuai logika. Tapi tak sedikit pula yang tetap menghormatinya, karena efek “pamali” yang pernah mereka atau orang sekitarnya alami secara langsung.

Tempat Sakral, Bukan Sembarang Wisata

Sanghyang Sirah bukan tempat wisata biasa. Bagi sebagian orang, ini adalah lokasi spiritual yang menuntut rasa hormat dan sikap sopan selama berada di sana. Jika berencana mengunjungi tempat ini, pastikan untuk selalu mengikuti aturan adat yang berlaku dan menjaga sikap.

Wallahu a’lam, kebenaran sejati mungkin hanya diketahui oleh Sang Pencipta. Namun yang pasti, Sanghyang Sirah akan selalu menjadi bagian penting dari warisan budaya dan spiritualitas masyarakat Jawa Barat, terutama mereka yang masih menjunjung tinggi tradisi leluhur.

Penulis: Asep Tolet | Harianbanten.co.id