HARIANBANTEN.CO.ID – Istilah 1312 sering muncul di graffiti, mural, hingga media sosial. Namun, tak banyak yang tahu bahwa angka ini bukan sekadar kode acak, melainkan simbol protes dengan sejarah panjang.

Berawal dari Inggris

Kode 1312 merupakan singkatan dari frasa ACAB atau All Cops Are Bastards. Istilah ini muncul di Inggris sejak awal abad ke-20 sebagai bentuk kritik kelas pekerja terhadap aparat kepolisian.

Pada 1940-an, istilah ACAB makin dikenal setelah sekelompok tahanan di Inggris difoto dengan tato bertuliskan huruf itu di jari mereka.

Populer Lewat Punk dan Ultras

Pada 1970-an hingga 1980-an, ACAB menjadi slogan perlawanan subkultur punk dan skinhead yang kerap bentrok dengan polisi. Tidak hanya di Inggris, tetapi juga menyebar ke Eropa lewat komunitas ultras sepak bola.

Untuk menghindari larangan, kode 1312 digunakan sebagai pengganti ACAB, dengan merujuk pada urutan alfabet: 1 (A), 3 (C), 1 (A), 2 (B).

Hidup Lagi di Amerika

Di Amerika Serikat, istilah ACAB/1312 kembali populer saat gerakan Occupy Wall Street (2011) dan semakin mendunia pada aksi Black Lives Matter (2020). Slogan ini dipakai sebagai simbol protes terhadap kekerasan polisi dan rasisme sistemik.

Poster, mural, hingga tagar #1312 banyak bermunculan di media sosial, menjadikannya simbol global.

Tren di Indonesia

Di Indonesia, istilah 1312 muncul melalui musik punk, graffiti, dan komunitas sepak bola. Bagi sebagian anak muda, kode ini dianggap sekadar simbol “street culture” atau identitas perlawanan.

Namun, tidak sedikit pula yang menggunakannya sebagai kritik sosial terhadap tindakan aparat yang dianggap berlebihan. Meski begitu, aparat keamanan kerap menganggap simbol ini provokatif.

Bukan Sekadar Angka

Kini, 1312 bukan lagi sekadar kode, melainkan bagian dari bahasa protes global. Dari jalanan London, mural di New York, hingga tembok kota di Indonesia, angka ini terus hidup sebagai tanda perlawanan. (red)