HARIANBANTEN.CO.ID – Di tengah era digital yang penuh dengan banjir informasi dan narasi tandingan, kemunculan Sunda Empire pada tahun 2020 sontak mengguncang ruang publik Indonesia.

Kelompok yang mengklaim diri sebagai kekaisaran dunia ini menyebut diri mereka sebagai penguasa global, dengan otoritas yang bahkan melampaui NATO, PBB, dan Vatikan.

Terdengar seperti fiksi ilmiah atau satir politik? Barangkali. Namun bagi sejumlah pihak, narasi Sunda Empire justru dianggap sebagai wacana sejarah alternatif yang patut dicermati lebih lanjut.

Klaim-klaim fantastis itu disampaikan secara terbuka oleh tokoh utamanya, Rangga Sasana, yang menyebut dirinya sebagai Sekretaris Jenderal Sunda Empire. Dalam sejumlah penampilan publik, ia menegaskan bahwa kekaisaran ini merupakan kelanjutan dari kejayaan kekaisaran Sunda yang, menurutnya, telah menguasai dunia sejak era Alexander Agung.

Tidak tanggung-tanggung, Sunda Empire mengklaim bahwa negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Inggris berada dalam struktur kekuasaan mereka melalui mekanisme yang mereka sebut sebagai trusty bank, semacam lembaga perbendaharaan global yang dikendalikan oleh kekaisaran ini.

Jejak Klaim, Minim Bukti

Dalam sejumlah kesempatan, Sunda Empire juga mengaku memiliki dokumen-dokumen autentik, termasuk Treaty of Versailles dan Green Hilton Agreement, yang konon menyebut Indonesia sebagai pusat kekuatan ekonomi dunia. Namun sejauh ini, belum ada dokumen yang secara terbuka diverifikasi validitasnya oleh sejarawan maupun pakar hukum internasional.

Ketika dikonfirmasi, sejumlah ahli menyatakan tidak menemukan bukti konkret yang mendukung keberadaan Sunda Empire sebagai kekuatan global. Meski demikian, perhatian publik telanjur tercuri. Narasi Sunda Empire sempat menjadi magnet bagi beberapa tokoh yang mencoba menelusuri kebenaran di balik organisasi tersebut.

Antara Sejarah dan Imajinasi

Nama “Sunda Empire” sendiri tampaknya ingin dikaitkan dengan sejarah Kerajaan Sunda kuno yang pernah berjaya di wilayah barat Pulau Jawa. Dalam catatan sejarah resmi, kerajaan ini memang memiliki peran penting dan berinteraksi dengan kekuatan besar seperti Majapahit dan Sriwijaya. Namun, tidak ada catatan sejarah yang menyebut mereka memiliki pengaruh hingga tingkat global seperti yang diklaim oleh kelompok ini.

Sejumlah teori alternatif berusaha menjelaskan kemungkinan adanya kekuatan maritim besar dari Nusantara yang luput dari catatan sejarah kolonial. Apakah Sunda Empire merupakan refleksi dari warisan yang hilang, atau sekadar narasi fiktif yang dibangun sebagai bentuk kritik sosial?

Narasi Kontra dan Era Post-Truth

Fenomena Sunda Empire dinilai oleh sebagian kalangan sebagai bentuk historiografi kontra, yakni narasi tandingan terhadap sejarah arus utama. Dalam konteks ini, kelompok semacam Sunda Empire dapat mencerminkan kerinduan kolektif akan kejayaan masa lalu, atau bahkan bentuk perlawanan simbolik terhadap ketidakpuasan terhadap sistem negara modern.

Di era post-truth, ketika emosi kerap lebih memengaruhi opini publik ketimbang fakta, narasi seperti Sunda Empire mudah menyebar. Ditambah dengan balutan istilah akademis, nama-nama tokoh besar dunia, dan nuansa global yang eksotis, tak sedikit yang tergoda untuk mempercayainya.

Ruang Diskusi Sejarah Alternatif

Apakah Sunda Empire hanya lelucon politik? Atau mungkinkah ia menyimpan potongan sejarah yang belum terungkap? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menjadi penting untuk membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai sejarah, identitas, dan kekuasaan naratif.

Tanpa harus menelan mentah-mentah klaim yang ada, narasi Sunda Empire patut dianalisis secara kritis sebagai bagian dari fenomena sosial dan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat modern yang haus makna dan jati diri.

Penulis: Red | Harianbanten.co.id