Dari Tarusbawa hingga Pajajaran: Jejak Panjang Kerajaan Sunda
HARIANBANTEN.CO.ID – Sejarah tanah Pasundan tidak bisa dilepaskan dari kisah panjang para raja yang pernah memimpin. Dari Tarumanagara hingga kejayaan Pajajaran, jejak peradaban Sunda meninggalkan warisan budaya dan identitas yang masih hidup dalam masyarakat Jawa Barat hingga hari ini.
Sunda bukan sekadar nama daerah. Lebih dari itu, Sunda adalah warisan, sebuah peradaban yang lahir dari leluhur agung di tanah Parahyangan. Di balik heningnya hutan dan megahnya gunung-gunung, tersimpan kisah panjang para raja yang tak hanya memimpin, tetapi juga mewariskan jati diri.
Dari Salakanagara, Tarumanagara, hingga Pajajaran yang melegenda, jejak perjalanan kerajaan-kerajaan itu menjadi akar sejarah masyarakat Sunda hingga kini.
Tarusbawa dan Awal Kerajaan Sunda
Kerajaan Sunda lahir setelah runtuhnya Tarumanagara. Pada tahun 669 Masehi, Sri Maharaja Tarusbawa, dari Sunda Sambawa, naik takhta menggantikan Linggawarman, raja terakhir Tarumanagara. Ia memindahkan pusat pemerintahan dari Sundapura (Bekasi) ke Pakwan (Bogor), sekaligus mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Sunda.
Dalam naskah kuno, Tarusbawa bergelar Tohaan di Sunda. Ia menjadi cikal bakal raja-raja Sunda yang kelak memerintah di Tatar Pasundan. Seusai wafat pada 723 Masehi, kepemimpinan dilanjutkan Sanjaya, menantunya, yang juga berhasil merebut kekuasaan Galuh. Sejak itu, Sunda dan Galuh bersatu di bawah satu mahkota.
Dinasti Berganti, Sunda Bertahan
Selepas Sanjaya beralih memimpin Kerajaan Medang di Jawa Tengah, tampuk Sunda-Galuh diwarisi raja-raja penerus: Tamperan, Hariang Banga, Rakeyan Medang, hingga Rakeyan Hujung Kulon. Meski sering berganti penguasa, Pakwan tetap menjadi pusat pemerintahan.
Pada abad ke-11, muncul nama Sri Jayabupati atau Prabu Detya Maharaja. Melalui pernikahan politik dengan keluarga Dharmawangsa Teguh di Jawa, ia memperkuat posisi Sunda. Gelarnya bahkan diabadikan dalam prasasti Cibadak yang ditemukan di Sukabumi.
Luka Bubat dan Wastu Kancana
Tragedi terbesar dalam sejarah Sunda terjadi pada masa Prabu Linggabuana Wisesa. Ia gugur bersama putrinya, Dyah Pitaloka Citraresmi, dan rombongan kerajaan dalam Perang Bubat tahun 1357 Masehi. Peristiwa ini menjadi luka mendalam, diingat sebagai pengkhianatan Majapahit.
Putra Linggabuana, Wastu Kancana, saat itu masih berusia 9 tahun. Kekuasaan sementara dipegang oleh pamannya, Prabu Bunisora. Baru pada 1371 Masehi, Wastu Kancana naik takhta. Ia memerintah panjang, hingga akhirnya mewariskan kerajaan kepada putra-putrinya yang kemudian membagi Sunda dan Galuh.
Puncak Kejayaan: Sri Baduga Maharaja
Abad ke-15 menjadi masa kejayaan Sunda. Prabu Jayadewata, yang dikenal dengan gelar Sri Baduga Maharaja atau lebih masyhur sebagai Prabu Siliwangi, naik takhta pada 1482 Masehi.
Ia mempersatukan Sunda dan Galuh kembali dalam satu kerajaan: Pajajaran. Di bawah kepemimpinannya, Pakuan berkembang pesat. Parit pertahanan, keraton megah, hingga tata kota yang teratur dibangun. Prabu Siliwangi pun dikenang sebagai simbol kebijaksanaan dan kejayaan Sunda.
Dari Surawisesa hingga Kemerosotan
Setelah Sri Baduga wafat, Pajajaran dipimpin putranya, Surawisesa. Selama 14 tahun, ia memimpin banyak peperangan. Namun, penerusnya, Ratu Dewata, lebih dikenal sebagai raja resi yang alim, sehingga urusan politik dan militer kerajaan melemah.
Masa-masa berikutnya ditandai kepemimpinan Prabu Ratu Sakti, Nilakendra, hingga Suryakancana. Pajajaran kian rapuh: pasukan tercerai-berai, moral menurun, dan serangan dari luar kian intens.
Runtuhnya Pajajaran
Puncak kejatuhan terjadi pada 1579 Masehi. Pasukan Banten di bawah pimpinan Panembahan Maulana Yusuf, dengan dukungan Demak, melancarkan serangan besar-besaran. Pakuan Pajajaran runtuh. Sejak saat itu, berakhir sudah riwayat panjang kerajaan Sunda.
Warisan yang Tak Pernah Padam
Meski hilang dari panggung politik, warisan Sunda tetap hidup. Dari prasasti, naskah kuno, hingga kisah turun-temurun, nama besar Prabu Siliwangi, Wastu Kancana, hingga Tarusbawa terus dikenang.
Mereka bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi simbol kehormatan, keberanian, dan kebijaksanaan leluhur Sunda yang jejaknya abadi hingga kini.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.