HARIANBANTEN.CO.ID – Di tengah citra Cilegon sebagai kota industri yang identik dengan baja dan pabrik, hadir sebuah ruang yang mengundang kita untuk berhenti sejenak, menunduk, dan merenung: Pameran Museum Mini yang akan digelar Besok, Sabtu (9/8/2025) oleh Dewan Kebudayaan Kota Cilegon yang berlangsung di Alun-alun Kota Cilegon.

Mengusung semangat “Sebuah kota tanpa museum adalah kota tanpa adab” pameran ini menjadi upaya nyata untuk menghadirkan kembali kesadaran kolektif akan pentingnya jejak sejarah dan warisan budaya sebagai fondasi peradaban.

“Museum bukan sekadar tempat menyimpan barang kuno, ia adalah cermin masa lalu dan kompas moral untuk masa depan,” kata Syaiful Iskandar selaku Ketua Bidang Warisan Benda Dewan Kebudayaan Kota Cilegon.

Lebih dari Sekadar Pajangan Sejarah

Pameran Museum Mini, menyajikan lebih dari sekadar artefak. Ia adalah ruang narasi yang hidup dengan menghadirkan foto-foto langka, dokumen bersejarah, alat musik tradisional, serta cerita-cerita perjuangan dan harapan yang pernah dan masih berdenyut di Kota Cilegon.

Melalui pameran ini, Dewan Kebudayaan Kota Cilegon, ingin mengajak masyarakat melihat kembali sisi lain kota mereka: Cilegon sebagai kota yang tidak hanya membangun mesin dan pabrik, tetapi juga merawat jiwa dan memori kolektifnya.

“Kita ingin mengembalikan kesadaran bahwa Cilegon bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga tanah yang menyimpan kisah. Tanpa cerita, kota ini akan sunyi; dan tanpa ingatan, kita kehilangan arah,” ujarnya.

Ajakan untuk Menemukan Diri dalam Sejarah Kota

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Kebudayaan Kota Cilegon, Ayatullah Khumaeni menyampaikan, pameran ini terbuka untuk umum dan dirancang ramah untuk segala usia, dari pelajar hingga orang tua.

Disusun secara tematik, pengunjung akan diajak menjelajah lintasan waktu dari masa pramodern hingga era industri, dari akar budaya lokal hingga dinamika urban kontemporer.

Dewan Kebudayaan juga mendorong masyarakat untuk melihat museum bukan sebagai tempat yang membosankan, melainkan sebagai ruang interaksi, diskusi, dan kebanggaan identitas.

“Mari, jangan biarkan cerita-cerita ini menghilang. Datang dan temukan kembali cerita kota kita, karena setiap warga punya bagian dalam narasi besar Cilegon,” ucapnya.

Jadilah Bagian dari Sejarah yang Hidup

Pameran Museum Mini ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Budaye Cilegon Fest & International Folk Arts (BC-FIFA) 2025, dan diharapkan dapat menjadi cikal bakal bagi lahirnya museum permanen di Kota Cilegon.

“Karena pada akhirnya, kota tanpa memori adalah kota tanpa arah,” tandasnya. (Red)