HARIANBANTEN.CO.ID – Selama tiga dekade terakhir, ekonomi Indonesia erat dikaitkan dengan dominasi “9 Naga” istilah yang merujuk pada konglomerat keturunan Tionghoa yang menguasai berbagai sektor strategis sejak era Orde Baru. Nilai aset mereka ditaksir mencapai Rp3.500 triliun atau setara 15% PDB Indonesia.

Namun, belakangan muncul penantang baru yang disebut “9 Haji”, kelompok taipan muslim dari daerah dengan bisnis di sektor batu bara, sawit, hingga emas. Berbeda dengan gaya flamboyan para crazy rich Jakarta, para “haji” ini justru jarang tampil di publik tapi diam-diam mengendalikan rantai pasokan vital Indonesia.

Siapa 9 Naga?

Meskipun tidak ada daftar resmi, nama-nama yang sering masuk kategori 9 Naga, tapi dari berbagai sumber, ada beberapa nama yang paling sering dikaitkan.

Berikut nama-nama yang kerap disebut sebagai bagian dari 9 Naga:

  • Robert Budi Hartono & Michael Hartono – Grup Djarum, Bank Central Asia (BCA).
  • Anthony Salim – Salim Group (Indofood, Indomaret, IndoAgri).
  • Prajogo Pangestu – Barito Pacific, Chandra Asri (petrokimia & energi).
  • James Riady / keluarga Riady – Lippo Group (properti, rumah sakit, pendidikan, digital).
  • Tomy Winata – Artha Graha Group (properti, perbankan, infrastruktur).
  • Dato’ Sri Tahir – Mayapada Group (banking, rumah sakit, properti).
  • Rusdi Kirana & Kusnan Kirana – Lion Air Group.
  • Edwin Soeryadjaya – Saratoga Investama Sedaya (energi, infrastruktur).
  • Sofjan Wanandi – Santini Group (investasi, industri).

Kadang, nama Jacob Soetoyo juga disebut sebagai salah satu dari 9 Naga dalam beberapa sumber.

Jadi, “9 Naga” lebih ke istilah populer untuk menggambarkan kelompok kecil konglomerat Tionghoa-Indonesia yang sangat berpengaruh di ekonomi RI sejak era Orde Baru hingga sekarang.

Strategi mereka jelas: kontrol penuh dari hulu ke hilir, mulai dari produksi makanan, perbankan, retail, hingga properti. Dengan basis di Jakarta, akses dekat ke pusat pemerintahan dan regulator menjadi kunci keberhasilan.

Lahirnya 9 Haji

Berbeda dengan naga, 9 Haji tumbuh dari daerah dan membangun kerajaan bisnis dengan memanfaatkan sumber daya alam. Mereka menjual langsung ke pasar global tanpa perantara, menjadikan margin keuntungan lebih besar.

Beberapa nama yang kerap disebut antara lain:

  • Haji Isam (Johnlin Group, Raja Batu Bara Kalsel, omzet Rp50 triliun per tahun)
  • Haji Kalla (dinasti otomotif Sulawesi, distribusi Toyota & Kia, jaringan politik lewat Jusuf Kalla)
  • Haji Aksa Mahmud (Bosowa Group, semen Sulawesi)
  • Haji Rasyid (sawit Kalteng, luas 115 ribu hektare, sempat masuk Forbes 2018)
  • Haji Leman (Hasnur Group, bisnis lintas sektor dari batu bara hingga sepak bola)
  • Haji Ijai (Crazy Rich Tapin, tambang batu bara, koleksi supercar & rumah helipad)
  • Haji Anif (Alam Group, sawit Sumut & properti mewah Cemara Asri Medan)
  • Haji Robert (tambang emas Halmahera)
  • Haji Ciyut (viral karena pesta pernikahan anak dengan helikopter, bisnis batubara & properti)

Mereka juga dikenal dekat dengan nilai-nilai Islam. Ada yang rutin membangun masjid, membiayai sekolah gratis, hingga menyalurkan zakat triliunan rupiah setiap tahun.

Dua Gaya, Dua Kekuatan

  • 9 Naga: berbasis Jakarta, kuasai bank, retail, manufaktur, fokus pasar domestik.
  • 9 Haji: berbasis daerah, kuasai tambang & sawit, fokus ekspor ke pasar global.

Meski begitu, 9 Haji juga menuai sorotan. Industri sawit dan tambang mereka kerap dituding merusak lingkungan dan mengeksploitasi pekerja. Sebagian gaya hidup glamor mereka pun dianggap bertolak belakang dengan nilai kesederhanaan Islam.

Kini, pertarungan senyap antara 9 Naga dan 9 Haji diperkirakan bakal menentukan arah ekonomi-politik Indonesia ke depan.

Apakah 9 Haji benar-benar akan menggeser dominasi 9 Naga, atau justru keduanya akan berkolaborasi membentuk oligarki baru? (red)

Sumber: Youtube Moco