Pelestarian Badak Jawa di Ujung Kulon: Populasi Naik Jadi 76, Tapi Tantangan Belum Usai
HARIANBANTEN.CO.ID — Di tengah hamparan hutan lebat dan keheningan alam liar Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, seekor satwa langka terus bertahan dari kepunahan: badak jawa (Rhinoceros sondaicus). Populasinya kini bertambah menjadi 76 ekor, menjadi kabar baik sekaligus pengingat bahwa tugas konservasi masih jauh dari selesai.
Badak jawa adalah spesies langka bercula satu yang hanya ditemukan di ujung barat Pulau Jawa. Satwa soliter ini terkenal sangat pemalu dan sulit dijumpai, bahkan oleh para peneliti dan penjaga hutan yang setiap hari menyusuri wilayah jelajahnya.
“Badak jawa itu punya daya jelajah yang luas. Satu individu bisa berjalan 15–20 kilometer per hari,” kata Anggodo, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Dikutip dari Youtube CNN Indonesia.
Konservasi badak jawa menjadi prioritas sejak populasi mereka menurun drastis di dekade 1980-an. Pada 1991, UNESCO menetapkan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai situs warisan dunia, sekaligus memperkuat posisi kawasan ini sebagai satu-satunya habitat alami badak jawa di dunia.
Teknologi dan Patroli Hutan: Cara Kerja Tim Monitoring
Upaya pelestarian dilakukan secara intensif oleh tim Monitoring Badak Jawa (MBJ). Mereka memasang kamera jebak di titik-titik strategis yang biasa dilalui badak, berdasarkan jejak kaki, bekas gesekan pohon, hingga bau urin.
Mita, salah satu anggota MBJ asal Pandeglang, sudah 23 tahun menyusuri hutan Ujung Kulon untuk mendata aktivitas badak. Ia biasa naik kano menyusuri Sungai Cigenter, wilayah jelajah badak bernama Desi dan Pajero.
“Pemasangan kamera itu harus tepat. Kami amati jejak dulu, lalu pasang kamera di jalur yang benar-benar dilewati badak,” ujar Mita.
Dalam satu periode monitoring, tim MBJ memasang hingga 17 kamera di wilayah seluas 4.000 meter persegi dalam waktu 10 hari. Kamera ini mampu merekam gerak satwa hingga sebulan penuh, sebelum diganti kembali.
Badak Makin Banyak, Tapi Habitatnya Tak Bertambah
Meski jumlah badak jawa meningkat dari 44 ekor pada 2019 menjadi 76 ekor pada 2024, luas habitat mereka masih tetap sama. Ini menjadi tantangan baru karena potensi overkapasitas bisa mengganggu perilaku alami dan keseimbangan populasi.
Taman Nasional Ujung Kulon memang kaya akan vegetasi. Badak jawa diketahui mengonsumsi lebih dari 200 jenis tanaman. Namun, daya tampung kawasan tak bisa terus-menerus memadai bila populasi terus meningkat tanpa perluasan wilayah konservasi.
Warga Terlibat, Edukasi Jalan Terus
Konservasi tak hanya dilakukan oleh pemerintah. Kelompok masyarakat seperti OPOORA (Ocean Voice for Animals) ikut terlibat aktif dalam kampanye pelestarian badak jawa.
Didirikan oleh Ovat Sofatuddin, warga asli Labuan, OPOORA rutin menyambangi sekolah-sekolah di wilayah penyangga Taman Nasional. Mereka menyampaikan edukasi soal badak jawa kepada anak-anak yang justru tinggal dekat habitat satwa langka ini.
“Banyak dari mereka bahkan belum pernah mendengar tentang badak jawa, padahal tinggal di kawasan penyangga. Ini jadi keprihatinan,” kata Ovat.
OPOORA juga mendukung konservasi dengan menyediakan kamera jebak tambahan, pengadaan air bersih dari hutan ke desa, hingga pemberian ternak untuk kelompok tani lokal.
Tidak Hanya Badak
Pelestarian di Ujung Kulon kini meluas tidak hanya untuk badak, tapi juga satwa lain seperti macan tutul, banteng, kijang, dan satwa liar lainnya. Kamera jebak kini merekam lebih dari 1.000 klip yang sedang dianalisis untuk mendapatkan data populasi satwa secara lebih luas.
“Untuk tahun ini, kami coba mengidentifikasi seluruh satwa lewat analisis kamera jebak. Estimasi macan tutul, misalnya, dari 400 klip video,” ujar Ovat.
Menjaga Warisan Dunia
Keberadaan badak jawa bukan hanya milik masyarakat Pandeglang, tapi juga milik seluruh bangsa Indonesia. Satwa bercula satu ini adalah bagian dari warisan dunia yang hidup.
“Konservasi bukan tugas satu pihak. Harus melibatkan semua stakeholder, dari pemerintah, masyarakat, hingga dunia pendidikan,” pungkasnya.
Penulis: Red | Harianbanten.co.id



1 Komentar