HARIANBANTEN.CO.ID – Maria Ulfah Santoso, perempuan kelahiran Serang, Banten, 18 Agustus 1911, dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Sebagai seorang pejuang hak-hak perempuan dan kemerdekaan, Maria Ulfah menorehkan jejak yang tak terlupakan dalam perjalanan bangsa, baik melalui kiprahnya dalam dunia hukum, politik, maupun sosial.

Pendidikan dan Awal Perjuangan

Maria Ulfah adalah perempuan pertama di Indonesia yang berhasil meraih gelar sarjana hukum pada tahun 1933 dari Universitas Leiden, Belanda. Sebelum menempuh pendidikan tinggi, ia telah menyaksikan berbagai ketidakadilan terhadap perempuan, termasuk praktik poligami yang marak di masa itu. Pengalaman ini membentuk tekadnya untuk memperjuangkan kesetaraan hak bagi perempuan.

Setelah kembali ke Indonesia, Maria Ulfah tidak hanya menjadi seorang pengajar, tetapi juga aktif dalam gerakan nasionalis dan organisasi-organisasi perempuan, termasuk Muhammadiyah. Ia turut memperjuangkan perubahan dalam hukum perkawinan di Indonesia, yang kala itu cenderung merugikan perempuan. Pada 1938, ia memimpin kongres yang berhasil memformulasikan reformasi hukum perkawinan yang diresmikan pada tahun 1941.

Karier Politik dan Sosial

Tahun 1945 menjadi titik balik dalam karier politik Maria Ulfah. Ia diangkat sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan kemudian menjadi Menteri Sosial dalam Kabinet Sjahrir II pada 12 Maret 1946. Menjadi perempuan pertama yang menduduki jabatan menteri, Maria Ulfah berperan penting dalam memulihkan kondisi sosial pasca-Perang Dunia II, terutama dalam membantu pemulangan tawanan perang.

Selain itu, Maria Ulfah juga berperan aktif dalam Perundingan Linggarjati 1946, yang memegang peranan penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia. Ia mengusulkan lokasi perundingan di Linggarjati, Kuningan, yang dianggap netral dan aman bagi kedua belah pihak.

Warisan dan Penghargaan

Selama hidupnya, Maria Ulfah tidak hanya aktif di dunia politik, tetapi juga dalam berbagai kegiatan sosial. Ia menjabat sebagai Ketua Kongres Wanita Indonesia (Kowani) pada periode 1950 hingga 1961 dan mendirikan Biro Sensor Film Indonesia. Atas jasa-jasanya, Maria Ulfah menerima berbagai penghargaan, termasuk Satya Lencana Karya Satya dan Bintang Mahaputera Utama.

Maria Ulfah Santoso meninggal dunia pada 15 April 1988 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Nama dan perjuangannya tetap menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Indonesia dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan kesetaraan di berbagai bidang.

Penulis: Red | Harianbanten.co.id