HARIANBANTEN.CO.ID – Di balik gagahnya Gunung Karang yang menjulang di Pandeglang, Banten, ternyata tersimpan kisah legenda yang bikin bulu kuduk berdiri. Gunung setinggi 1.778 meter di atas permukaan laut ini bukan sekadar destinasi pendakian atau wisata religi. Lebih dari itu, Gunung Karang dipercaya sebagai tempat berkumpulnya para wali dan jin sedunia!

Gunung Karang disebut-sebut sebagai saksi bisu awal mula penyebaran Islam di Tanah Banten. Bukan isapan jempol semata, cerita turun-temurun bahkan menyebut bahwa sumur tujuh yang ada di puncaknya merupakan peninggalan langsung dari Sultan Maulana Hasanuddin, putra dari Sunan Gunung Jati.

Baca Juga: Ngapak, Medok, dan Bahasa Jawa yang Terbelah Sejarah

Konon, setelah menaklukkan musuh bebuyutannya, Prabu Pucuk Umun, Sultan Hasanuddin kehausan. Dalam doanya kepada Allah, beliau menancapkan tongkat ke tanah, dan muncullah tujuh mata air dari dalam bumi. Air keramat inilah yang kini dikenal dengan Sumur Tujuh, tujuan utama para pendaki dan peziarah.

Tapi bukan itu saja yang bikin merinding.

Dua Dunia di Satu Gunung?

Gunung Karang dipercaya punya dua sisi: bagian putih tempat berkumpulnya para wali, dan bagian hitam sebagai markas para jin. Tak heran, sebelum naik ke gunung ini, pendaki biasanya diminta izin dulu ke kuncen atau juru kunci, demi keselamatan dan tata karma.

Selain Sumur Tujuh, masih ada batu menhir, petilasan Sultan Hasanuddin, hingga makam para ulama yang tersebar di beberapa titik keramat di gunung tersebut.

Baca Juga: Tak Hanya Kota Baja, Inilah Deretan Tempat Wisata Menarik di Cilegon

Pertarungan Mistis: Sunan Gunung Jati vs Brata Guru Sampang

Legenda Gunung Karang juga tak lepas dari pertarungan spiritual antara Sunan Gunung Jati dan Brata Guru Sampang, seorang petapa sakti mandraguna yang konon bisa mengguncang jagat. Setelah adu kekuatan selama 7 hari 7 malam, sang petapa akhirnya tumbang dan memeluk Islam.

Lalu ada pula kisah Watugilang, batu hitam tempat bertapanya Maulana Hasanuddin. Disebut-sebut, Watugilang jadi sumber kekuatan spiritual Banten, dan siapa pun yang hendak menjadi Sultan Banten harus menguasai batu tersebut. Kini, batu itu kabarnya berada di tangan cucu keturunan Sultan Hasanuddin, yang tidak lagi tinggal di Banten.

Baca Juga: Mengulik Perbedaan Suku Sunda dan Jawa: Sejarah, Budaya, dan Mitos Pernikahan yang Masih Dibicarakan

Sumber Islam dan Isyarat Gaib

Gunung Karang bukan hanya gunung tertinggi di Banten, tapi juga dipercaya sebagai penjaga spiritual wilayah tersebut. Ketika Banten dilanda kekacauan, mitosnya pasukan dari Gunung Karang akan turun menertibkan.

Dan jika batu Watugilang kembali ke tanah Banten, dipercaya masa kejayaan Banten akan bangkit kembali.

Penulis: Asep Tolet | Harianbanten.co.id