Ramalan Jayabaya Bikin Merinding, Benarkah Zaman Edan Sudah Tiba?
HARIANBANTEN.CO.ID — Bayangkan seorang raja dari abad ke-12, duduk dalam perenungan panjang di sebuah kerajaan yang makmur di Jawa Timur. Di hadapan para pengikutnya, ia tidak hanya dikenal sebagai penguasa, melainkan juga seorang visioner. Ia adalah Sri Mapanji Jayabaya, Raja Kediri, yang namanya hingga kini masih dikenang lewat naskah penuh teka-teki: Jangka Jayabaya.
Naskah itu bukan sekadar karya sastra kuno. Bagi sebagian orang, ia diyakini sebagai peta masa depan Nusantara. Dari ramalan tentang “zaman edan” hingga kemunculan pemimpin yang disebut Satrio Piningit, bahkan tanda-tanda datangnya “dua matahari kembar” pada tahun 2025, semua membuat masyarakat modern bertanya-tanya: benarkah Jayabaya mampu melihat lintasan waktu jauh ke depan?
Notonegoro dan deretan presiden
Salah satu bagian paling banyak dibicarakan adalah sandi Notonegoro. Suku kata ini kerap dikaitkan dengan deretan pemimpin Indonesia.
“No” disebut merujuk pada Sukarno dan Soeharto. “To” ditafsirkan sebagai pemimpin yang berasal dari lingkaran kekuasaan seperti Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati. “Na” dihubungkan dengan Susilo Bambang Yudhoyono, dan “Go” ditafsirkan sebagai Joko Widodo yang lahir dari rakyat jelata.
Kesamaan bunyi dan perjalanan sejarah membuat ramalan itu tampak begitu tepat. Namun, di situlah pertanyaan muncul: setelah Jokowi, siapa selanjutnya? Apakah siklus Notonegoro telah berakhir?
Zaman edan dan harapan Satrio Piningit
Dalam Jangka Jayabaya, perjalanan sejarah dibagi ke dalam beberapa era. Salah satu yang paling relevan dengan kondisi sekarang adalah Zaman Kalabendu, atau zaman edan.
Era ini digambarkan sebagai masa penuh kekacauan, di mana fitnah lebih cepat menyebar dibanding kebenaran, aturan jungkir balik, bencana datang silih berganti, dan rasa keadilan kian memudar. Banyak yang percaya, masyarakat Indonesia kini tengah berada di puncak era itu.
Namun, ramalan itu tidak berhenti pada kegelapan. Jayabaya menulis tentang datangnya seorang pemimpin tersembunyi, Satrio Piningit, yang kelak membawa keadilan dan kemakmuran. Sosok ini bukan berasal dari dinasti politik, melainkan muncul ketika bangsa berada di titik terendah.
Misteri dua matahari kembar
Bagian lain yang membuat merinding adalah ramalan tentang “dua matahari kembar” yang disebut-sebut akan muncul pada 2025.
Dalam tafsir simbolik, matahari melambangkan pusat kekuasaan. Jika ada dua matahari, berarti ada dua kekuatan besar yang sama-sama terang dan saling berebut pengaruh. Kondisi itu dapat dimaknai sebagai dualisme kepemimpinan atau perebutan legitimasi politik di tingkat elite.
Bagi sebagian orang, ramalan ini seolah berhubungan dengan ketidakpastian politik menjelang pergantian kekuasaan nasional.
Antara ramalan dan cocokologi
Meski banyak yang percaya, sejumlah sejarawan menekankan bahwa Jangka Jayabaya yang populer saat ini kemungkinan besar bukan naskah asli dari abad ke-12. Banyak bagian diyakini merupakan tambahan berabad-abad kemudian, termasuk oleh pujangga besar Ranggawarsita pada abad ke-19.
Hal itu berarti, ramalan yang terlihat “tepat” bisa saja hasil penafsiran ulang setelah peristiwa terjadi, atau sekadar cocokologi—kecenderungan manusia mencocok-cocokkan sesuatu dengan fakta sejarah.
Peringatan budaya leluhur
Terlepas dari benar tidaknya, Jangka Jayabaya tetaplah warisan penting. Ia tidak harus dipahami sebagai prediksi kaku, melainkan sebagai peringatan budaya.
Zaman Kalabendu mengingatkan masyarakat akan bahaya perpecahan. Satrio Piningit menjadi simbol harapan akan pemimpin yang adil dan bijaksana. Sementara ramalan dua matahari kembar dapat dibaca sebagai alarm atas potensi perebutan kekuasaan yang membelah bangsa.
Jayabaya, dalam hal ini, seolah tidak sedang mengunci takdir. Ia hanya memberi peta kemungkinan jalan yang bisa ditempuh. Jalan itu, pada akhirnya, tetap ada di tangan rakyat Indonesia. (Red)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.