Benteng Speelwijk: Tempat Bersejarah yang Memecah Kesultanan Banten
HARIANBANTEN.CO.ID – Di tengah kawasan Banten Lama yang kian ramai dikunjungi wisatawan, berdiri sisa-sisa benteng tua yang menyimpan kisah kelam tentang perpecahan dan perebutan kekuasaan. Benteng Speelwijk bukan sekadar bangunan pertahanan militer peninggalan kolonial, melainkan simbol nyata strategi adu domba yang meruntuhkan kejayaan Kesultanan Banten dari dalam.
Benteng ini dibangun pada tahun 1682 oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada masa pemerintahan Sultan Haji, putra dari Sultan Ageng Tirtayasa. Konflik antara ayah dan anak ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk memperkuat posisinya di Banten. Dengan dalih perlindungan dari serangan pendukung Sultan Ageng, VOC meminta izin kepada Sultan Haji untuk membangun benteng di dekat pusat kekuasaan kesultanan.
Permintaan itu disetujui, dan lahirlah Benteng Speelwijk, nama yang diambil dari Gubernur Jenderal VOC saat itu, Cornelis Speelman. Benteng ini dirancang oleh arsitek Hendrik Lucasz Cardeel, seorang Belanda yang sempat masuk Islam dan menjadi penasihat Sultan Ageng sebelum akhirnya berpihak pada VOC.
Pembangunan benteng dilakukan dengan menggunakan tenaga kerja Tionghoa berupah rendah. Material yang digunakan terdiri dari campuran pasir, batu, kapur, dan air. Kompleks benteng dikelilingi tembok setinggi tiga meter dan dilengkapi empat bastion di setiap sudutnya. Di dalamnya terdapat rumah komandan, kamar senjata, gereja, kantor administrasi, hingga kamar dagang.
Benteng Speelwijk tidak hanya berfungsi sebagai tempat pertahanan, tetapi juga sebagai pusat kontrol VOC atas Kesultanan Banten. Dari tempat inilah VOC mengawasi pergerakan politik dan perdagangan di kawasan tersebut, sekaligus memperkuat hegemoni kolonialnya.
Konflik internal antara Sultan Ageng dan Sultan Haji yang diperkeruh oleh campur tangan VOC pada akhirnya menyebabkan perpecahan besar dalam tubuh Kesultanan Banten. Puncaknya terjadi pada tahun 1683, ketika Sultan Ageng ditangkap dan diasingkan ke Batavia. Sejak saat itu, pengaruh Belanda di Banten semakin kuat dan berujung pada merosotnya kedaulatan kesultanan.
Kini, Benteng Speelwijk berdiri dalam keheningan, menjadi saksi bisu masa lalu yang penuh intrik. Meski sebagian besar bangunan telah rusak dimakan waktu, bentuk dasar benteng dan jejak sejarahnya masih dapat dikenali. Situs ini menjadi pengingat bahwa kekuasaan bisa runtuh bukan hanya karena musuh dari luar, tetapi juga oleh perpecahan dari dalam.
Pemerintah daerah dan pegiat sejarah kini mendorong pelestarian Benteng Speelwijk sebagai bagian dari warisan budaya Banten. Selain memiliki nilai arsitektur kolonial, benteng ini juga menyimpan pelajaran penting tentang sejarah perjuangan dan pengkhianatan dalam perjalanan panjang bangsa ini.
Penulis: Asep Tolet | Harianbanten.co.id



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.