Masjid Al-Iztihad Gulacir, Saksi Bisu Perlawanan Ulama Banten terhadap Kolonial
HARIANBANTEN.CO.ID – Di Kampung Gulacir, Desa Sukabares, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang, berdiri sebuah bangunan masjid yang menyimpan jejak penting sejarah perlawanan terhadap kolonialisme Belanda pada akhir abad ke-19.
Masjid Al-Iztihad, demikian nama rumah ibadah tersebut, tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat dan kegiatan keagamaan, tetapi juga pernah menjadi pusat pergerakan bawah tanah kaum ulama dalam menyusun strategi pemberontakan.
Masjid ini memiliki kaitan erat dengan peristiwa Geger Cilegon 1888, sebuah pemberontakan besar yang dipimpin KH. Wasyid. Salah satu tokoh sentral di balik peristiwa tersebut adalah Tubagus Ismail, dan para ulama memainkan peran penting dalam merancang perlawanan terhadap pemerintah kolonial.
Sebelum berdiri sebagai masjid, tempat ini digunakan untuk pengajian Manakiban, tradisi keagamaan yang mempertemukan ulama dari berbagai daerah seperti Serang, Cilegon, dan Kasunyatan. Di balik kegiatan religius tersebut, para ulama sebenarnya tengah menyusun siasat rahasia melawan penjajahan.
Diperkirakan sekitar 300 ulama berkumpul di lokasi ini, di bawah komando Tubagus Ismail. Mereka menggunakan aktivitas keagamaan sebagai kedok untuk menghindari kecurigaan pihak Belanda. Lokasi Gulacir yang tersembunyi dari keramaian membuatnya ideal sebagai tempat berlindung dan menyusun strategi.
Menurut masyarakat setempat, nama “Gulacir” berasal dari kata “pelarian”, yang merujuk pada fungsi tempat ini sebagai lokasi persembunyian para ulama yang diburu.
Setelah peristiwa Geger Cilegon mereda, para kasepuhan dan murid Tubagus Ismail kemudian membangun masjid secara resmi pada tahun 1890, sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan sang ulama.
Masjid Al-Iztihad telah mengalami beberapa kali renovasi, pada tahun 1970, 1987, dan 1990. Saat ini, masjid tengah menjalani tahap rehabilitasi keempat.
Meski telah diperbarui secara fisik, beberapa ornamen asli tetap dipertahankan, seperti kaligrafi tua di dinding, simbol dua tombak bersilang, serta tongkat khatib bermata dua yang diyakini dahulu digunakan sebagai senjata.
Kini, Masjid Al-Iztihad tak hanya menjadi tempat ibadah masyarakat sekitar, tetapi juga menjadi pengingat bisu tentang peran ulama dalam perjuangan melawan kolonialisme, sebuah warisan sejarah yang patut dilestarikan.
Penulis: Red | Harianbanten.co.id



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.